Minggu, 22 November 2009

senja terakhir


Angin berhembus kencang,menyibak tirai jendela yang terbuka,secercah cahaya senja menerobos masuk melalui cerah tirai jendela yang tersibak oleh angin.Sinar merahnya jatuh ke sebuah cermin hias yang kemudian dipantulkan kebelakang,membuat kamar itu terasa terang bagai disinari lampu sorot.Kamar yang sudah lama dia biarkan kosong,ka-
mar yang dulu menjadi saksi kemesraan mereka berdua,saksi mati saat mereka bercium mesra,berpelukan mesra di ranjang,saksi saat mereka bercinta,saat mereka saling merangkul menatap senja di sore hari.Kamar dengan jendela pintu kayu itu memang
berada dalam posisi menghadap arah barat,dengan hamparan pepohonan pinus dilereng
dan kemilaunya laut sore didepannya.Sebuah villa yang mereka beli saat mereka berdua baru terikat tali kasih asmara,setelah menikah mereka memutuskan untuk dijadikan
tempat tinggal,walau harus menempuh perjalanan yang lumayan memakan waktu untuk
ke kota,tempat dimana dia bekerja,namun mereka berdua adalah sepasang suami istri dengan karakter yang sama,sama sama tidak menyukai keramaian kota,hiruk pikuk berbagai suara dan bunyi yang di timbulkan oleh sisi sisi materialisme manusia kota.
alam bagi mereka adalah rumah jiwa,rumah dimana tempat mereka merasa menemukan
jati diri mereka yang sebenarnya,tempat dimana mereka merasa jiwa mereka menyatu dalam suara suara yang ditaburkan oleh alam itu sendiri.Rumah itu telah menjadi saksi kunci sebuah ikatan penyatuan dua jiwa yang sama selama delapan belas tahun lamanya,
bagai dua keping puzzle yang tersusun rapat dalam setiap lekukannya,sebelum salah satunya lepas,sebelum saat sang waktu datang untuk melepaskan kepingan puzzle itu.

Senja sore itu,angin berhembus kencang,mungkin tiupan angin di musim kemarau memang berhembus lebih kencang dari bulan bulan sebelumnya,ujung pohon pinus yang ada di depan rumah terasa menari nari,seakan mengibas-ngibas ekornya kesana kemari
bersama dengan irama angin yang meniupnya,secercah sinar senja menembus melalui
cerah cerah ranting pohon pohon itu,terdengar deburan ombak dari kejauhan,sesekali
segerombolan burung terbang melewati di hadapannya.Dia duduk di kursi goyang itu,
menatap dengan tatapan kosong ke depan,sesekali dia menbetulkan rambutnya yang berantakan akan tiupan angin,sesekali dia menatap sebuah kursi goyang yang sama di sampingnya,seperti sebuah kursi kesepian yang ditinggal pemiliknya,kursi itu sekarang
seperti telah kehilangan rasa dan jiwa,kursi dimana tempat mereka mengukir kisah,kisah
saat mereka berdua menikmati senja sore ditiap kali hari minggu atau hari dimana dia bisa pulang lebih awal dan mendapatkan senja belum bersembunyi dibalik pohon-pohon
pinus itu.

Setahun yang lalu,di ruangan dokter
Mereka berdua duduk menatap dokter yang lumayan lama terdiam sambil memeriksa
hasil foto rontgen dan laboratorium test,sesekali dokter memandang ke wajah mereka.
masih terdiam lalu..”sudah berapa lama ibu merasakan gejala ini”akhirnya dokter itu membuka suara.”kurang dari setahun ini dok,badan saya cenderung sering lemas dan terakhir ini beberapa kali saya pingsan secara tiba tiba”,sambil mengengam tangan suaminya.Dokter diam sejenak,”ehmm..keluarga ibu apakah ada yang pernah atau punya sejarah kanker?”terasa nada yang berat di beberapa kata terakhir yang di ucapkan oleh dokter itu.Mereka saling berpandangan,kedua pasang bola mata mereka dalam sekejap
Terlihat basah,dan meneteslah ke bawah.ia teringat bagaimana ayahnya meninggal
Dikala ia masih kecil,ibunya waktu dulu mengatakan bahwa ayahnya terkena penyakit misterius yang tidak ada obat penyembuhnya,belum sempat ia menjawab,dokter telah
Menimpali”ibu terkena kanker darah..”kedua tubuh itu langsung terasa lemas,tetes demi tetes air mata itu jatuh,sambil berkaca kaca dan berusaha untuk tegar ia memandang wajah istrinya lalu menatap dokter itu,”kami masih punya waktu berapa lama?”
“mungkin tujuh atau sembilan bulan” lalu menuliskan resep dan menyodorkan kepada mereka.

Enam bulan yang lalu,sore hari.
Sore itu,rerumputan masih basah,daun daun tanaman bunga masih menyisahkan butiran-butiran air,angin terasa dingin meniup dengan kencang,gerimis gerimis kecil masih menetes,sisa dari hasil hujan satu jam yang lalu.akhirnya sinar itu keluar juga dari balik awan,sore itu terasa indah sekali,siluet senja yang begitu indah.senja sehabis hujan
Memang berbeda dengan senja di hari biasa,semua warna bercampur melukis di kanvas langit menghasilkan satu lukisan indah yang harmoni.mereka duduk berdua di kursi itu,tubuhnya sudah jauh berubah,setahun yang lalu tubuh itu masih bisa dengan gesit meliuk liuk seperti model yang berjalan di catwalk.saat senja di sore itu dengan keindahan puncaknya sebelum tenggelam di balik pohon pohon pinus itu,ia berujar sambil menatap ke arah suaminya..
“mungkin ini senja terindah terakhir yang saya nikmati bersama dengan kamu.sayang”
“bagiku setiap senja itu indah,besok ataupun lusa,tetaplah masih sneja terindah yang masih kita nikmati bersama”suaminya membalas sambil menatap dan mengusap pipi yang basah oleh air mata yang jatuh.
Pelahan lahan senja sore itu menghilang,lalu semakin gelap dan gelap.

Hari ini,sore,senja.
Dia duduk begitu tenang,begitu sunyi,suara desiran ombak dari jauh,cahaya senja yang dalam hitungan menit akan berakhir,ujung-ujung pohon pinus yang berliuk liuk,seakan akan menari untuk melepaskan sebuah kepergian,dia menatap ke samping,sebuah kursi goyang kosong itu,sambil berucap”sayang,kita akan bersama lagi,tunggulah…”lalu melihat secarik kertas di tangan dengan beberapa kalimat hasil coretan,dan meletakannya dipangkuan,lalu terdiam,semuanya menjadi tenang,sunyi.Angin lalu meniup kertas itu,terbang bersama dengan coretannya untuk senja terakhir.
walau kamu tetap hadir setiap sore dengan cahyamu
indah bersenandung dalam deburan ombak
namun dalam cahyamu ku melihat dia
seakan semuanya menyatu,
rasanya,senja sore ini
cukuplah bagiku untuk melihat kamu yang terakhir
ku minta sudimu tuk berbagi
satu tempat diriku dan dirinya dalam cahyamu
maka ku sebut,inilah senja terakhir