
New York,8th Avenue Street
Kakiku melangkah bersama dengan gerimis yang turun,pelahan-pelahan sepatuku mulai basah.Langit begitu kelabu,udara sedingin es yang meniup serasa membekukan gerak langkah kakiku,bersama dengan langkahku,aku terus bertanya pada diriku,bagaimana kamu bisa menyeretku sampai datang kesini,sebuah kota asing yang hanya ku liat di film film sebelumnya.Walau gerimis terus turun,kini sepasang sepatu kulitku telah basah semua,sebuah jaket kulit yang aku kenakan untuk membungkus
Seluruh tubuhku terasa tidak cukup hangat oleh dinginnya cuaca di sini,aku berjalan menerusuri 8th Avenue street menuju sebuah tempat yang kamu janjikan untuk bertemu denganku,ku ikuti petunjuk jalan yang Kamu belikan kepadaku sebelumnya lewat sebuah email yang kamu kirimkan.Central Park,nama tempat itu,tempat dimana kamu ingin aku menemuimu disitu.Dari 8th Avenue street,kamu menyuruhku jalan terus sampai ketemu dengan bundaran Columbus,dan masuk ke Central Park West,katamu kamu akan menungguku di 65th Street Transverse Road.Aku berhenti sejenak,inilah New York,kota metropolis terbesar dan tersibuk di dunia,manusia dengan balutan jaket tebal yang berlalu-lalang.Aku berdiri bersama puluhan pejalan kaki,baik wanita dan pria semuanya hampir sama,membungkus diri mereka dengan jaket kulit yang tebal,dengan sebuah payung hitam ditangan,membuat aku bertanya pada diri ini,kenapa orang-orang New York begitu suka dengan payung hitam,mengingatkanku sejenak dengan film-film mafia seperti God Father,Road Perdition yang di bintangi oleh Tom Hanks,dan Beautiful Mind yang di bintangin oleh Russel Crown.Semua menunggu lampu penyeberangan yang masih tak kunjung berganti hijau,terbesit di hati,apakah kamu masih menungguku di sana,walau hujan gerimis yang tak kunjung berhenti,dan cuaca dingin yang menusuk tiap lekuk tubuhmu,atau apakah kamu telah meninggalkan tempat itu,tapi tiada pesan apa-apa yang masuk ke layar handphoneku,karena itu ku yakin kamu masih menungguku.Aku bergegas melangkah setelah lampu berganti hijau,menerobos keluar dari kerumunan.
Jakarta,Mid Plaza Hotel,lima tahun yang lalu
Pertama kali aku mengenalmu lewat sebuah perkenalan di sebuah pesta pernikahan teman aku,saat pertama kali aku menjabat tanganmu dan memandang kedua matamu,rasanya hatiku terasa berdesir ,saat itu aku sadar,mungkin hati ini telah menemukan satu kepingan puzzlenya yang selama ini terus dicarinya lewat sebuah perjumpaan dan perjumpaan,tapi perjumpaan dan perjumpaan itu tidaklah lebih dari secangkir kopi hangat yang di seduhkan kepadaku setiap hari di kedai kopi itu,aromanya begitu menyengat,wanginya harum menusuk ke dalam hidung,Tapi semua hanya sekejap,dengan berjalannya waktu dari detik yang berubah jadi menit dan berubah menjadi jam,wanginya telah memudar,begitu juga dengan perjumpaan-perjumpaan itu,saat senyum hangat menghiasi bibir,berubah menjadi senyum manis yang merangsang hati,dan akhirnya menjadi senyum dingin yang membuat hati juga kembali dingin,melepaskan satu kepergian dari sebuah perjumpaan itu sendiri.namun kamu berbeda,saat pertama kali itu,rasanya kali ini aku berani membuka kembali pintu hati ini yang telah lama ku kuncikan dengan sebuah gembok,di dalamnya terdapat sebuah ruang kosong dengan sebuah hati yang terluka,penuh bekas sayatan,ada yang telah membekas lama,ada yang baru membekas,dengan gampang kamu akan membedakannya,dengan membuka ini,berarti ku telah siap harus menanggung bila akhirnya kamu akan mengoreskan dan menambahkan sebuah luka lagi,pikirku,semua ada resikonya dan cinta itu hadir bersama dengan resikonya sendiri,berjalan beriringan bersama senyum dan duka,manis dan pahit,tertawa dan air mata,tergantung mana yang akan terpilih mendampingmu.Maka ku putuskan hati ini untukmu,sejak saat itu.Dan,memang kamu membalasnya juga dengan membiarkan ku masuk lebih jauh ke dalam hatimu.Rasanya seperti pertama kali aku menyukai seorang gadis di saat anak-anak,saat hanya berani menyimpannya dalam hati,saat itu kata cinta masih begitu asing,hanya merasa aneh,karena cinta pertama hadir tanpa mengenal waktu dan usia.Namun tiap sadar dia hadir di depanmu,membuat semua pikiranmu terasa mengacau,dan jantungmu berdetak begitu kencang.Hari-hari bersamamu,menjadi hari-hari tak tergantikan dalam hidup ini,saat hubungan itu berkembang kearah yang lebih serius,saat pertama kali kamu perkenalkan aku di hadapan kedua orang tuamu lewat sebuah jamuan makan malam di sebuah restoran hotel bintang lima,saat itu ku tahu,hubungan kita akan tersekat,walau tidak ku sebut berakhir.Pandangan mata itu,dan pertanyaan orang tuamu seperti sebuah bassoka yang menembakan lusinan pelurunya ke dalam tubuhku,aku tak berdaya,karena statusmu begitu tinggi untuk hanya sekadar di gadaikan kepadaku,namun kita masih mencoba bertahan,walau terkadang harus pandai bersandiwara lewat setiap gerakan,kembali lagi seperti sebuah film penyamaran,aku dan kamu harus pandai menyamar menjadi aku yang lain dan kamu yang lain,sampai akhirnya menjadi lelah,karena kamu tak kuasa untuk hanya sekedar menentang kedua orang tuamu,hanya demi aku yang juga tidak berani menjanjikan kamu apa-apa,selain sepotong hati yang akan setia mendampingmu.namun,aku sadar sepotong hati tidak cukup untuk di jadikan sebuah garansi.Karena statusmu,sepotong hati ini berubah menjadi tidak ada apa-apa,dan akhirnya lewat sebuah pertemuan dan itu adalah pertemuan terakhir yang kita berdua menyepakati,dimalam yang penuh nuansa keromantisan,di sebuah restoran di puncak tertinggi dari sebuah gedung,hanya aku dan kamu,kita sepakat menyudahi semua ini.Air mata pelahan melinang keluar dari kedua matamu dan juga tentu dari kedua mataku,saat kamu memberitahukanku,bahwa
Tanggal kepergianmu telah di tetapkan,kamu akan menetap di sebuah Negara nan jauh,Amerika,tepatnya New York katamu,dan juga aku tahu,bukan hanya sekedar melepaskan ragamu namun juga jiwamu yang selama ini aku mengikatnya bersama dalam hatiku,karena sebelumnya kamu telah banyak cerita padaku,tentang keinginan orang tuamu yang ingin kamu berteman dekat dengan salah seorang temannya,seorang anak konsulat Indonesia di amerika.Setelah kepergianmu,ku sengaja tenggelamkan diriku dalam dunia kerjaanku,semua ajakan berkumpul dari teman-temanku selalu aku menolaknya dengan berbagai alasan yang tidak jelas,bulan yang berganti tahun,dan tahun tahun terlewati tanpa terasa,tidak ada satupun cerita bersama wanita lain yang ku tambahkan dalam hati ini,setelah cerita terakhir yang ku tuliskan bersamamu dalam setiap goresan luka.
Jakarta,Rasuna Apartement
Malam itu,Jumat malam,hujan bergerimis,aku di apartemenku dengan beberapa catatan laporan keuangan dari kantor yang aku bawa pulang untuk di kerjakan,saat memeriksa tiap detail laporan angka-angka,sebuah email masuk,ku lepaskan pekerjaanku sejenak,saat email itu aku buka,alamat yang terpampang di layar memunculkan kembali semua ingatanku kepadamu,sebuah email yang kamu kirimkan kepadaku setelah email terakhir beberapa tahun lalu sebelum malam perpisahan itu.Seperti
Sebuah surat formalitas lainnya,kamu tanyakan kabar tentang diriku,bagaimana kehidupanku,bagaimana pekerjaanku,dengan sedikit candaan kamu menanyakanku mungkin aku yang sekarang sudah menjadi seorang ayah untuk anak-anakku,menjadi seorang suami untuk istriku,selebihnya kamu menceritakan tentang kamu yang disana selama beberapa tahu terakhir,pekerjaanmu yang sukses,dan kamu akhiri surat email itu dengan sebuah pemberitahuan yang sengaja kamu tuliskan di paragraph terakhir ,bahwa Kamu akan menikah,tempat resepsi pernikahan yang tidak tanggung-tanggung,Waldorf Astoria Hotel,sebuah hotel berbintang yang lokasi tidak jauh dari Central Park.Gereja Kathedral St.John the Divine,sebuah gereja terbesar di Amerika,bahkan ada yang mengatakan gereja terbesar di dunia,akan melengkapi sebagai tempat pemberkatan pernikahanmu.Kamu menanyakan alamatku yang sekarang,kamu ingin aku datang ke New York,kamu ingin aku hadir dalam pesta akbarmu,aku melirik sebentar kearah kalender meja,melihat apakah jadwalku akan padat di hari-hari itu,lalu aku membalaskan emailmu dengan memberitahukan alamat tinggalku yang sekarang,dan menutup laptopku malam itu,dengan menyender di kursi kerjaku,aku meraih sebuah remote CD Player dan menekan tombol play,First of May dari Bee Gees mengalirkan begitu indah menemaniku dalam malam yang hening,sementara gerimis masih turun,membasahi kaca dengan butiran-butiran airnya yang menempel,mengaburkan pandangan cahaya gedung-gedung di seberang sana.

New York,Central Park
Kini,aku memasuki kawasan Central Park,gerimis yang masih belum berhenti,namun taman itu masih tetap terasa ramai,beberapa orang terlihat bercengkerama sambil menikmati kopi hangat di sebuah kedai kopi di pinggir taman itu,taman terbesar di kota New York ini,terlihat begitu hijau,dengan tiap sudut taman yang tertata rapi,danau danau buatan yang sangat indah,jogging track,bangku-bangku di tiap sudut,kini aku sampai di 65th Street Transverse Road,aku memperlambat langkahku,sambil melirik kanan kiri pada tenda-tenda café yang terdapat di kiri kanan jalan itu,dari jauh,ku melihat seorang perempuan dengan jaket hitam,sebuah selendang ungu dilingkari di lehernya,dengan sepatu bot hak tinggi warna hitam,menambahkan sisi keanggunannya.Saat perempuan itu memalingkan mukanya kini,persis dihadapanku,aku mengenalimu,ya itu kamu,sebuah paras yang tertanam dalam hati ini selama lima tahun terakhir yang masih tak tergantikan.Aku menghentikan langkahku sekitar sepuluh meter di hadapanmu,dan kamu juga beranjak berdiri bisu,menatapku lama,terasa seakan keheningan
Menyelimuti,waktu seakan ikut berhenti,hanya aku dan dirimu kini,dua objek manusia yang berdiri saling menatap,sementara semua benda yang bergerak di sekitar kita seakan berhenti bergerak.Setelah puluhan detik yang bisu,sebuah senyummu terlihat menyapaku dan aku juga melanjutkan langkah kakiku untuk menghampirimu.Hal pertama yang ku lakukan,hanya ingin memelukmu,kita saling merangkul,memeluk,mendekap,semua begitu hening.Aku memesan secangkir kopi panas,kamu sibuk bercerita tentang keadaanmu,namun aku hanya ingin terus menatap wajahmu,rasanya tidak ingin membiarkan wajah itu terhapus.Aku datang bukan untuk hadiri pernikahanmu,aku hanya datang untuk melihatmu yang mungkin terakhir kalinya,dan aku tidak mau menemuimu dengan busana pengantin mewahmu,yang katamu di rancang oleh salah satu perancang terkenal,Vera Wang.Tidak di St John of Divine,tidak juga di Waldorf Astoria Hotel,tapi di Central Park,tempat yang jauh dari hiruk pikuk aroma kemewahan,seperti film Autumn in New York,sebuah film yang di mainkan oleh aktor kesukaanmu,
Richard Gere,dan Winona Ryder yang mengambil banyak seting di tempat yang sekarang kita berdiri ini.Kamu mengajakku untuk ngobrol sambil berkeliling,gerimis kini mulai berhenti,sisa sisa air yang masih menampung di antara celah-celah dedaunan,butiran air yang masih mengantung,mengingatkanku
pada sebuah melodi sendu,Kiss The Rain.Yang dimainkan oleh Yiruma,pianis asal Jepang.Kita berjalan
sampai Terrace Dr,waktu telah menunjukkan jam lima sore saat kita berjalan menerusuri W 79st Transverse Road dan keluar menuju 5th Avenue,sisi luar dari taman.Kamu menghentikan langkahmu,mataku terlihat mulai berkaca-kaca,dengan butiran air mata mulai keluar dari kedua bola matamu,mungkin kamu tahu 5th Avenue menjadi tempat saksi perpisahankan kita.
“apakah kamu akan datang di pemberkatan pernikahanku?”akhirnya suaramu keluar.Aku tersenyum,lalu aku memelukmu dan berbisik di telingamu.”aku datang hanya ingin menemuimu di sini”.
Keheninganku seakan mengatakan kepadamu,bahwa semua rasa itu,semua kenangan itu,sengaja aku terbang beribu mil dari Jakarta,untuk mengakhirinya di sini,Central Park.Mungkin sebagai penutup kisahku yang selama ini masih ku simpan,senantiasa terbawa kemanapun kaki ini melangkah.Sebuah panggilan masuk dari handphonemu,katamu kamu harus segera pergi,ada urusan perjamuan keluarga.
Aku melambaikan tangan kepada satu taksi warna kuning yang melaju di depanku,dan taksi itu segera memperlambat lajunya dan menepi persis sedikit kedepan dari posisi aku berdiri,lalu aku membukakan pintu untukmu,tangisanmu pecah saat itu juga,tanpa ada sepatah kata yang keluar,kamu mendekapku erat,sebelum masuk ke dalam ke dalam taksi.Aku menatapmu bersama dengan taksi itu yang mulai berjalan membawamu serta dalam sebuah perpisahan dan pertemuan terakhir ,sampai taksi itu kini mulai menghilang,bercampur dengan taksi-taksi kuning lainnya saat berbelok menuju E 79th Street.