Pagi ini,rasanya aku sangat malas beranjak dari ranjang empuk dimana di luar gerimis yang turun semalaman masih belum berhenti,butiran air dan kabut menempel di jendela,di tambah cuaca yang dingin rasanya siapapun juga akan berpikir sama,ingin menghabiskan seharian di ranjang saja.Tapi,apa daya perutku yang keroncongan terpaksa membangunkanku,gara-gara semalam karena gerimis aku pun malas keluar untuk mengisi perut ini,akibatnya pagi-pagi ini dia sudah berteriak bagai bayi yang berteriak kepada ibunya minta jatah makan.Dengan berat mata,aku pun beranjak bangun menuju ke dapur,melihat apakah masih ada sebungkus biskuit setidaknya yang masih tersisa untuk menjadi ganjalan isi perut,setidaknya bisa menahan sampai beberapa jam ke depan dan ternyata memang masih menyisakan sebungkus kecil biscuit kue coklat yang entah kapan sudah tergeletak di sudut lemari,aku pun tanpa berpikir lagi langsung meraihnya dan membawanya kembali ke kamar tidurku.Di dalam kamar,aku pun menyantap dengan nikmat sepotong demi sepotong kue coklat itu,aku duduk di depan meja dimana biasa aku habiskan waktu dengan membaca atau menulis,terlihat beberapa tumbukan novel yang belum selesai di baca,sebagian masih terbungkus rapi,sebagian sudah di robek plastik pembungkusnya,tetapi bukunya masih terlihat rapi,biasanya saya membaca sebagian dan karena ada suatu hal aku bisa meninggalkannya lama dengan ceritanya yang terpotong,sampai kadang sering kali aku harus memulai baca dari awal lagi.Pagi ini,rasanya semuanya begitu sepi,begitu hening,aku singkirkan embun hujan yang menempel di jendela,tampak di luar jalanan begitu sepi,hanya tampak sesekali mobil lewat,dan beberapa orang yang melewati,aku lupa hari ini hari Minggu,dimana semua kantor tutup,apalagi di tambah suasana dingin gerimis seperti ini,aku kembali ke meja ,mengambil sepotong kue lagi untuk dimasukkan kedalam mulutku,tanganku menyenggol sebuah buku dan terjatuh,dan itu buku diariku,saat mengambilnya beberapa surat yang aku selipkan didalam juga ikut jatuh keluar,surat-surat itu……”arghhhhhh…”.Kenapa arghhhhh,karena membuat aku teringat lagi,padanya.Dia adalah kekasihku….ehm.
Surat-surat itu……..?
Ya,itu surat antara aku dan dia di saat masih saling kirim mengirim rasa rindu lewat surat,lewat coretan kata,aku suka bercerita memakai kata,begitu juga dengan dirinya,begitu awalnya kami bertemu,berkenalan dan sudah suka saling bercerita.
Kekasihku,dia ada di seberang lautan jauh melintasi samudera diujung sana.Jauh sekali hingga rasanya hanya angin yang dapat segera menangkap sosoknya,menerbangkan rindu,dulunya.
Kekasihku,dia bekerja untuk sebuah lembaga penelitian lingkungan dan selalu di tugaskan di daerah-daerah terpencil,sangat-sangat terpencil dimana bila malam datang,satu-satunya kebisingan hanya suara-suara jangkrik atau kodok yang bernyanyi.Aku pernah mengikutinya ke tempat dimana dia bertugas,sebuah desa di pedalaman Irian jaya,dari Jayapura kita masih harus menyeberangi lautan di lanjutkan dengan jalan darat sejauh ratusan km sebelum di lanjutkan dengan berjalan kaki menaiki pegunungan sejauh belasan km untuk mencapai ke lokasi dimana desa tertinggal itu berada.Tiada ada penerangan yang memakai listrik selain satu-satunya penerangan hanyalah lampu dari sumbu minyak yang di buat dengan potongan bamboo dan kain yang diisi minyak didalamnya,jangankan ada sinyal handphone,handphone saja membuat orang-orang di situ melihat seperti alat ajaib yang bisa berbunyi,aku masih ingat ketika aku di sana dan mengeluarkan sebuah ipod lalu seorang anak suku situ penasaran,maka aku menyuruh dia mendekat duduk di sampingku,aku pasangkan earphone di telinganya,dan tahu apa yang terjadi,dia menjerit-jerit ketakutan sampai membuat ramai suasana desa.Ketua suku berpikir aku mempunyai ilmu mistik dengan semua peralatan itu sampai si anak lari ketakutan karena ada suara wanita yang berteriak di dalamnya.Bila dalam posisi kebelet,jangan pernah mencari toilet,karena toiletnya adalah alam bebas,dan hutan-hutan itu adalah toilet alami,kekasihku pernah mengingatkan,jangan sakit perut malam-malam,bisa-bisa kamu berjongkok melepas hajat,dan sebuah harimau sedang tidur pulas di depanmu.itulah pengalaman aku pernah mengikuti dia,kekasihku dulu dan bisa membayangkan sendiri bagaimana alaminya dan keterasingannya dari dunia hiruk pikuk kota besar seperti Jakarta.Itulah alasannya aku begitu mencintai kekasihku,seorang anak gadis dengan latar belakang keluarga berada dan pendidikan diploma luar negeri tetapi mau mengabdi untuk sebuah pekerjaan yang bagi orang pas-pasan sekalipun belum tentu mau menerimanya,dan kekasihku tidak di bayar mahal selain hanya semua biaya operasional yang di tanggung oleh lembaga riset tersebut.Aku pernah menanyakan isu ini padanya,apakah ke depannya dia masih akan terus berdedikasikan hidupnya di sini,karena bagaimanapun sebagai seorang kekasihnya,aku juga merasa sedih bila setiap saat harus di tinggalkan dengan jarak yang terbentang jauh bersama dengan waktu yang tak pernah pasti.
Dia hanya menjawab,”aku mencintai kebebasan,tiada seorang pun yang bisa mengikat aku,aku ingin seperti angin..”matanya menoleh padaku dan tangannya yang dingin menempel di pipiku yang juga dingin pada malam penuh kesunyian dan langit penuh dengan jutaan cahaya bintang yang bersinar.
“Kamu tahu,sayang…..harusnya kamu sudah tahu sejak awal kamu mencintaiku..”dia melanjutkan.
“Aku tahu..”balasku
“Dan karena itulah aku mencintaimu….”desisnya pelan.
“Aku mencintai dirimu seperti aku mencintai diriku sendiri dengan semua sisi kebebasan yang ada,aku mencintaimu bersama cinta yang tidak di bangun atas dasar janji-janji,atas dasar hal-hal prihal seperti sebuah ikatan cinta tertulis layaknya pasangan-pasangan lainnya…”bisiknya sambil menyandar bersama pelukanku.
“kita memang pernah berujar,mencintai layaknya angin yang menerbangkan dedaunan,mencintai layaknya air yang dibawa arus,mencintai layaknya pergantian musim-musim,semua berjalan begitu bebas,tanpa ada yang mengikat dan terikat,cinta tidak bisa mengikat dan terikat,cinta bertahtakan kebebasan yang saling memahami’
Begitulah aku mencintai kekasihku,begitulah kekasihku mencintai aku,kita saling mencintai atas nama kebebasan.Waktu tidak bisa mengikat kita,apalagi jarak,kita menyerahkan semuanya pada udara,bebas.
Begitulah aku dan kekasihku menjalin satu-satunya komunikasi dengan surat menyurat,karena hanya surat dimana aku dan dia masih bisa bercerita,aku bercerita tentang teman-temanku,tentang pekerjaanku yang membuatku bosan,aku ungkapkan segala kekesalan dan segala kebosanan itu lewat surat-surat itu kepada kekasihku,kekasihku biasa bercerita dengan tempatnya yang baru,bisa di pedalaman Atambua,kadang di pedalaman Biak,kadang di pedalaman Sampit,bercerita tentang hutan-hutan yang habis di babat oleh sekelompok oknum dengan pejabat yang telah di suap,bercerita tentang sungai Kapuas yang menjadi satu-satunya sarana transportasi,bercerita tentang keindahan pulau Roti yang dekat Timor-Timur,pulau Sumba.Kadang aku iri dengan kekasihku,iri dengan segala kebebasannya,di saat-saat dimana aku menulis surat,aku suka menengadah pandanganku keluar jendela,tepatnya di atas sebuah pohon yang suka menjadi tempat berlabuhnya burung-burung gereja,sambil bergumam sendiri alangkah bebasnya menjadi burung,dan kekasihku sudah menjadi burung dengan kepakan sayapnya yang melentang lebar sehingga membawanya terbang tinggi,jauh melintasi samudera,melintasi bukit-bukit,dan jarak bukan lagi sebuah hambatan.
Suatu hari di pagi yang mendung,berbulan-bulan tanpa ada surat balasan dari kekasihku,aku kedatangan seorang tamu,seorang rekan kerja kekasihku dari lembaga penelitian,beliau menemukan alamat aku karena sebelumnya kekasihku suka bercerita pada dia tentang diriku dan kekasihku suka menitipkan dia surat untuk di kirimkan ke pos,mengingat tugas dia yang lebih banyak keluar masuk kota.Hari itu,dia datang dengan tangannya menenteng satu box plastik biru.Setelah saya mempersilakan dia masuk dan kita ngobrol sejenak di ruang tamu,dia menyerahkan box biru itu di depanku.Tentunya aku sedikit heran bertanya tentang isi box itu.
“ini semua file-file dan koleksi surat kekasihmu..”katanya,dengan suara pelan dia melanjutkan,
“Dalam sebuah tugas menuju ke pulau Nuhu,sebuah pulau di sisi selatan Irian Jaya,kekasihmu bersama dengan beberapa teman kerja hilang di dalam perairan laut Arafura..”
Kekasihku sebelumnya sudah di ingatkan supaya di tunda rencana keberangkatan ke pulau Nuhu,karena menurut perkiraan cuaca,gelombang laut Arafura sedang mengganas,nelayan tidak berani pergi melaut dan beberapa hari sebelumnya juga di laporkan satu kapal nelayan hilang di perairan itu.Karena saya tahu,kekasihku selalu berpegang pada kebebasan,di tambah dengan kondisi rakyat pedalaman Nuhu yang di laporkan sangat memprihatinkan,kekasihku nekad untuk tetap melanjutkan perjalanan itu.
Katanya,Tim SAR telah mencari selama seminggu dan tidak mendapatkan titik kejelasan apa-apa,dan posisi pulau Nuhu sangat terpencil,kejadian ini tidak sempat terpublikasikan dalam media.(tentunya media sudah terlalu sibuk dengan berita-berita tentang korupsi aparat dan oknum-oknum yang kabur ke luar negeri)dan juga mereka belum berani berspekulasi kekasihku dan beberapa orang kru kapal itu meninggal,karena bisa saja mereka terdampar di salah satu pulau.Itulah kenapa butuh berbulan-bulan untuk memastikan bahwa kekasihku benar-benar menghilang dan dengan catatan tidak bisa di temukan.Dia memegang tanganku dan mengatakan turut berduka cita,meminta maaf atas segala keterlambatan informasi ini.
“suatu malam kekasihmu pernah bilang kepadaku,bila suatu hal terjadi,dia minta aku menyerahkan box ini padamu,katanya di dalam tersimpan semua surat-suratmu dan beberapa foto..”lanjutnya
Dalam box itu aku buka setelah kepergian rekan kerja kekasihku itu,aku mendapatkan setumpuk surat yang terlihat lumayan usang tetapi di susun begitu rapi,surat itu semua merupakan surat yang pernah aku kirimkan kepadanya,dan aku menemukan beberapa lembar foto yang terselip di sebuah buku harian kekasihku,aku mengambilnya dan terlihat foto kekasihku yang sedang tertawa riang bersama anak-anak suku setempat,ada satu foto dia berfoto bersama seorang nenek tua dengan sederetan gigi hitam tersenyum bahagia.
“kekasihku,dia seperti angin yang selalu ada walau tidak pernah menampakkan sebuah kehadiran,selamanya akan selalu begitu….”
Dan kini kekasihku benar-benar merubah wujudnya menjadi angin yang menjadikannya bebas,sebebas-bebasnya terbang menuju ke segala penjuru dunia,dan hadir bersama setiap saat dalam kebersamaanku.
“kekasihku,ia tidak pernah menghilang,tidak pernah ada dan tiada,kini ia hanya merubah wujud”
*cerita ini terinpirasi dari sebuah film korea yang berjudul”windstrucks”
Surat Suara Tanpa Angka
11 tahun yang lalu
