Selasa, 17 Agustus 2010

Gerimis Di Central Park



New York,8th Avenue Street

Kakiku melangkah bersama dengan gerimis yang turun,pelahan-pelahan sepatuku mulai basah.Langit begitu kelabu,udara sedingin es yang meniup serasa membekukan gerak langkah kakiku,bersama dengan langkahku,aku terus bertanya pada diriku,bagaimana kamu bisa menyeretku sampai datang kesini,sebuah kota asing yang hanya ku liat di film film sebelumnya.Walau gerimis terus turun,kini sepasang sepatu kulitku telah basah semua,sebuah jaket kulit yang aku kenakan untuk membungkus
Seluruh tubuhku terasa tidak cukup hangat oleh dinginnya cuaca di sini,aku berjalan menerusuri 8th Avenue street menuju sebuah tempat yang kamu janjikan untuk bertemu denganku,ku ikuti petunjuk jalan yang Kamu belikan kepadaku sebelumnya lewat sebuah email yang kamu kirimkan.Central Park,nama tempat itu,tempat dimana kamu ingin aku menemuimu disitu.Dari 8th Avenue street,kamu menyuruhku jalan terus sampai ketemu dengan bundaran Columbus,dan masuk ke Central Park West,katamu kamu akan menungguku di 65th Street Transverse Road.Aku berhenti sejenak,inilah New York,kota metropolis terbesar dan tersibuk di dunia,manusia dengan balutan jaket tebal yang berlalu-lalang.Aku berdiri bersama puluhan pejalan kaki,baik wanita dan pria semuanya hampir sama,membungkus diri mereka dengan jaket kulit yang tebal,dengan sebuah payung hitam ditangan,membuat aku bertanya pada diri ini,kenapa orang-orang New York begitu suka dengan payung hitam,mengingatkanku sejenak dengan film-film mafia seperti God Father,Road Perdition yang di bintangi oleh Tom Hanks,dan Beautiful Mind yang di bintangin oleh Russel Crown.Semua menunggu lampu penyeberangan yang masih tak kunjung berganti hijau,terbesit di hati,apakah kamu masih menungguku di sana,walau hujan gerimis yang tak kunjung berhenti,dan cuaca dingin yang menusuk tiap lekuk tubuhmu,atau apakah kamu telah meninggalkan tempat itu,tapi tiada pesan apa-apa yang masuk ke layar handphoneku,karena itu ku yakin kamu masih menungguku.Aku bergegas melangkah setelah lampu berganti hijau,menerobos keluar dari kerumunan.


Jakarta,Mid Plaza Hotel,lima tahun yang lalu

Pertama kali aku mengenalmu lewat sebuah perkenalan di sebuah pesta pernikahan teman aku,saat pertama kali aku menjabat tanganmu dan memandang kedua matamu,rasanya hatiku terasa berdesir ,saat itu aku sadar,mungkin hati ini telah menemukan satu kepingan puzzlenya yang selama ini terus dicarinya lewat sebuah perjumpaan dan perjumpaan,tapi perjumpaan dan perjumpaan itu tidaklah lebih dari secangkir kopi hangat yang di seduhkan kepadaku setiap hari di kedai kopi itu,aromanya begitu menyengat,wanginya harum menusuk ke dalam hidung,Tapi semua hanya sekejap,dengan berjalannya waktu dari detik yang berubah jadi menit dan berubah menjadi jam,wanginya telah memudar,begitu juga dengan perjumpaan-perjumpaan itu,saat senyum hangat menghiasi bibir,berubah menjadi senyum manis yang merangsang hati,dan akhirnya menjadi senyum dingin yang membuat hati juga kembali dingin,melepaskan satu kepergian dari sebuah perjumpaan itu sendiri.namun kamu berbeda,saat pertama kali itu,rasanya kali ini aku berani membuka kembali pintu hati ini yang telah lama ku kuncikan dengan sebuah gembok,di dalamnya terdapat sebuah ruang kosong dengan sebuah hati yang terluka,penuh bekas sayatan,ada yang telah membekas lama,ada yang baru membekas,dengan gampang kamu akan membedakannya,dengan membuka ini,berarti ku telah siap harus menanggung bila akhirnya kamu akan mengoreskan dan menambahkan sebuah luka lagi,pikirku,semua ada resikonya dan cinta itu hadir bersama dengan resikonya sendiri,berjalan beriringan bersama senyum dan duka,manis dan pahit,tertawa dan air mata,tergantung mana yang akan terpilih mendampingmu.Maka ku putuskan hati ini untukmu,sejak saat itu.Dan,memang kamu membalasnya juga dengan membiarkan ku masuk lebih jauh ke dalam hatimu.Rasanya seperti pertama kali aku menyukai seorang gadis di saat anak-anak,saat hanya berani menyimpannya dalam hati,saat itu kata cinta masih begitu asing,hanya merasa aneh,karena cinta pertama hadir tanpa mengenal waktu dan usia.Namun tiap sadar dia hadir di depanmu,membuat semua pikiranmu terasa mengacau,dan jantungmu berdetak begitu kencang.Hari-hari bersamamu,menjadi hari-hari tak tergantikan dalam hidup ini,saat hubungan itu berkembang kearah yang lebih serius,saat pertama kali kamu perkenalkan aku di hadapan kedua orang tuamu lewat sebuah jamuan makan malam di sebuah restoran hotel bintang lima,saat itu ku tahu,hubungan kita akan tersekat,walau tidak ku sebut berakhir.Pandangan mata itu,dan pertanyaan orang tuamu seperti sebuah bassoka yang menembakan lusinan pelurunya ke dalam tubuhku,aku tak berdaya,karena statusmu begitu tinggi untuk hanya sekadar di gadaikan kepadaku,namun kita masih mencoba bertahan,walau terkadang harus pandai bersandiwara lewat setiap gerakan,kembali lagi seperti sebuah film penyamaran,aku dan kamu harus pandai menyamar menjadi aku yang lain dan kamu yang lain,sampai akhirnya menjadi lelah,karena kamu tak kuasa untuk hanya sekedar menentang kedua orang tuamu,hanya demi aku yang juga tidak berani menjanjikan kamu apa-apa,selain sepotong hati yang akan setia mendampingmu.namun,aku sadar sepotong hati tidak cukup untuk di jadikan sebuah garansi.Karena statusmu,sepotong hati ini berubah menjadi tidak ada apa-apa,dan akhirnya lewat sebuah pertemuan dan itu adalah pertemuan terakhir yang kita berdua menyepakati,dimalam yang penuh nuansa keromantisan,di sebuah restoran di puncak tertinggi dari sebuah gedung,hanya aku dan kamu,kita sepakat menyudahi semua ini.Air mata pelahan melinang keluar dari kedua matamu dan juga tentu dari kedua mataku,saat kamu memberitahukanku,bahwa
Tanggal kepergianmu telah di tetapkan,kamu akan menetap di sebuah Negara nan jauh,Amerika,tepatnya New York katamu,dan juga aku tahu,bukan hanya sekedar melepaskan ragamu namun juga jiwamu yang selama ini aku mengikatnya bersama dalam hatiku,karena sebelumnya kamu telah banyak cerita padaku,tentang keinginan orang tuamu yang ingin kamu berteman dekat dengan salah seorang temannya,seorang anak konsulat Indonesia di amerika.Setelah kepergianmu,ku sengaja tenggelamkan diriku dalam dunia kerjaanku,semua ajakan berkumpul dari teman-temanku selalu aku menolaknya dengan berbagai alasan yang tidak jelas,bulan yang berganti tahun,dan tahun tahun terlewati tanpa terasa,tidak ada satupun cerita bersama wanita lain yang ku tambahkan dalam hati ini,setelah cerita terakhir yang ku tuliskan bersamamu dalam setiap goresan luka.


Jakarta,Rasuna Apartement

Malam itu,Jumat malam,hujan bergerimis,aku di apartemenku dengan beberapa catatan laporan keuangan dari kantor yang aku bawa pulang untuk di kerjakan,saat memeriksa tiap detail laporan angka-angka,sebuah email masuk,ku lepaskan pekerjaanku sejenak,saat email itu aku buka,alamat yang terpampang di layar memunculkan kembali semua ingatanku kepadamu,sebuah email yang kamu kirimkan kepadaku setelah email terakhir beberapa tahun lalu sebelum malam perpisahan itu.Seperti
Sebuah surat formalitas lainnya,kamu tanyakan kabar tentang diriku,bagaimana kehidupanku,bagaimana pekerjaanku,dengan sedikit candaan kamu menanyakanku mungkin aku yang sekarang sudah menjadi seorang ayah untuk anak-anakku,menjadi seorang suami untuk istriku,selebihnya kamu menceritakan tentang kamu yang disana selama beberapa tahu terakhir,pekerjaanmu yang sukses,dan kamu akhiri surat email itu dengan sebuah pemberitahuan yang sengaja kamu tuliskan di paragraph terakhir ,bahwa Kamu akan menikah,tempat resepsi pernikahan yang tidak tanggung-tanggung,Waldorf Astoria Hotel,sebuah hotel berbintang yang lokasi tidak jauh dari Central Park.Gereja Kathedral St.John the Divine,sebuah gereja terbesar di Amerika,bahkan ada yang mengatakan gereja terbesar di dunia,akan melengkapi sebagai tempat pemberkatan pernikahanmu.Kamu menanyakan alamatku yang sekarang,kamu ingin aku datang ke New York,kamu ingin aku hadir dalam pesta akbarmu,aku melirik sebentar kearah kalender meja,melihat apakah jadwalku akan padat di hari-hari itu,lalu aku membalaskan emailmu dengan memberitahukan alamat tinggalku yang sekarang,dan menutup laptopku malam itu,dengan menyender di kursi kerjaku,aku meraih sebuah remote CD Player dan menekan tombol play,First of May dari Bee Gees mengalirkan begitu indah menemaniku dalam malam yang hening,sementara gerimis masih turun,membasahi kaca dengan butiran-butiran airnya yang menempel,mengaburkan pandangan cahaya gedung-gedung di seberang sana.


New York,Central Park

Kini,aku memasuki kawasan Central Park,gerimis yang masih belum berhenti,namun taman itu masih tetap terasa ramai,beberapa orang terlihat bercengkerama sambil menikmati kopi hangat di sebuah kedai kopi di pinggir taman itu,taman terbesar di kota New York ini,terlihat begitu hijau,dengan tiap sudut taman yang tertata rapi,danau danau buatan yang sangat indah,jogging track,bangku-bangku di tiap sudut,kini aku sampai di 65th Street Transverse Road,aku memperlambat langkahku,sambil melirik kanan kiri pada tenda-tenda café yang terdapat di kiri kanan jalan itu,dari jauh,ku melihat seorang perempuan dengan jaket hitam,sebuah selendang ungu dilingkari di lehernya,dengan sepatu bot hak tinggi warna hitam,menambahkan sisi keanggunannya.Saat perempuan itu memalingkan mukanya kini,persis dihadapanku,aku mengenalimu,ya itu kamu,sebuah paras yang tertanam dalam hati ini selama lima tahun terakhir yang masih tak tergantikan.Aku menghentikan langkahku sekitar sepuluh meter di hadapanmu,dan kamu juga beranjak berdiri bisu,menatapku lama,terasa seakan keheningan
Menyelimuti,waktu seakan ikut berhenti,hanya aku dan dirimu kini,dua objek manusia yang berdiri saling menatap,sementara semua benda yang bergerak di sekitar kita seakan berhenti bergerak.Setelah puluhan detik yang bisu,sebuah senyummu terlihat menyapaku dan aku juga melanjutkan langkah kakiku untuk menghampirimu.Hal pertama yang ku lakukan,hanya ingin memelukmu,kita saling merangkul,memeluk,mendekap,semua begitu hening.Aku memesan secangkir kopi panas,kamu sibuk bercerita tentang keadaanmu,namun aku hanya ingin terus menatap wajahmu,rasanya tidak ingin membiarkan wajah itu terhapus.Aku datang bukan untuk hadiri pernikahanmu,aku hanya datang untuk melihatmu yang mungkin terakhir kalinya,dan aku tidak mau menemuimu dengan busana pengantin mewahmu,yang katamu di rancang oleh salah satu perancang terkenal,Vera Wang.Tidak di St John of Divine,tidak juga di Waldorf Astoria Hotel,tapi di Central Park,tempat yang jauh dari hiruk pikuk aroma kemewahan,seperti film Autumn in New York,sebuah film yang di mainkan oleh aktor kesukaanmu,
Richard Gere,dan Winona Ryder yang mengambil banyak seting di tempat yang sekarang kita berdiri ini.Kamu mengajakku untuk ngobrol sambil berkeliling,gerimis kini mulai berhenti,sisa sisa air yang masih menampung di antara celah-celah dedaunan,butiran air yang masih mengantung,mengingatkanku
pada sebuah melodi sendu,Kiss The Rain.Yang dimainkan oleh Yiruma,pianis asal Jepang.Kita berjalan
sampai Terrace Dr,waktu telah menunjukkan jam lima sore saat kita berjalan menerusuri W 79st Transverse Road dan keluar menuju 5th Avenue,sisi luar dari taman.Kamu menghentikan langkahmu,mataku terlihat mulai berkaca-kaca,dengan butiran air mata mulai keluar dari kedua bola matamu,mungkin kamu tahu 5th Avenue menjadi tempat saksi perpisahankan kita.
“apakah kamu akan datang di pemberkatan pernikahanku?”akhirnya suaramu keluar.Aku tersenyum,lalu aku memelukmu dan berbisik di telingamu.”aku datang hanya ingin menemuimu di sini”.
Keheninganku seakan mengatakan kepadamu,bahwa semua rasa itu,semua kenangan itu,sengaja aku terbang beribu mil dari Jakarta,untuk mengakhirinya di sini,Central Park.Mungkin sebagai penutup kisahku yang selama ini masih ku simpan,senantiasa terbawa kemanapun kaki ini melangkah.Sebuah panggilan masuk dari handphonemu,katamu kamu harus segera pergi,ada urusan perjamuan keluarga.
Aku melambaikan tangan kepada satu taksi warna kuning yang melaju di depanku,dan taksi itu segera memperlambat lajunya dan menepi persis sedikit kedepan dari posisi aku berdiri,lalu aku membukakan pintu untukmu,tangisanmu pecah saat itu juga,tanpa ada sepatah kata yang keluar,kamu mendekapku erat,sebelum masuk ke dalam ke dalam taksi.Aku menatapmu bersama dengan taksi itu yang mulai berjalan membawamu serta dalam sebuah perpisahan dan pertemuan terakhir ,sampai taksi itu kini mulai menghilang,bercampur dengan taksi-taksi kuning lainnya saat berbelok menuju E 79th Street.

Kamis, 29 Juli 2010

Sebuah Cerita Tentang Sebuah Potret


Jakarta,24 juni 2010, 14:30WIB
Lamoda cafe,Plaza Indonesia

Unchained melody dimainkan begitu indah oleh seorang pianis yang menghibur tamu-tamu yang bersantai ria di salah satu café bergengsi di salah satu tempat shopping centre kelas atas Jakarta,
Para tamu yang rata rata wanita usia diatas kepala tiga sibuk dalam percakapan yang menyenangkan diantara mereka,ada beberapa sibuk memainkan blackberry mereka di tangan,namun sekali-kali tertawa cekikikan,tenggelam dalam dunia maya mereka.
“Lin,eh loe udah nonton Sex and The City belom?”sambil membalas BBM yang masuk dari blackberrynya,Cathy bertanya pada Lina,salah satu best friendnya,teman satu group arisan dan juga teman satu alumni ketika mereka mengambil kuliah S2 di New Soulth Wales University,Sydney.

“gue kemarin nonton di Pasific Place ama hubby gue,eh loe tahu nggak Lin,si Sarah di film itu sekarang
Dah terasa banget tuanya,haha..tapi,gaun warna peraknya di situ anggun banget”sambung Cathy.
“oh,gaun yang sama yang di gambar cover itu ya,iya emang ok banget tuh gaun,eh loe tahu design siapa itu,maksud gue merknya”balas Lina.

“kata teman gue,si Diana,katanya Emilio Pucci punya rancangan,Diana kan salah satu columnis di majalah High End kan,yang gitu-gitu udah so pasti dia lebih up to date dibanding gue”balas Widya yang juga teman satu grup mereka.”by the way,gue lagi senang nih,haha,kemarin malam laki gue telp gue,dia kan emang lagi di Paris,katanya dia ada beliin satu sandal high heel jimmy choo special edition,yang itu
Cate(panggilan buat Cathy)yang pernah gue kasih loe liat di bb gue dua minggu lalu,masih ingat gak,Yang gue bilang lagi dibahas di majalah The Vogue edisi terbaru itu loh!”
“masaaaaaaaaaa”teriak Lina yang seakan terkejut dengan apa yang baru dia dengarkan barusan.”si Sarah di sex and the city aja kalah ama loe,Wid”
Sambil tertawa puas karena telah membuat teman-temannya kaget dan membuat dirinya seakan akan berada dalam kondisi high confidence,Widya menambahkan lagi,”dan yang lebih kaget lagi,tahu nggak harganya berapa,laki gue harus rogoh koceknya lima ribu euro buat dapatin tuh sandal”

“eitttt,tunggu tunggu,satu euro berapa rupiah ya?”Tanya cathy.”kitar sepuluh ribu rupiah gitulah”balas Widya yang tampak bangga dengan berhasil memamerkan prestige dia ke teman-temannya.

“siettttttt”celutuk si Cathy tiba-tiba”sandal loe harganya lima puluh juta rupiah Wid,tiga tas Louis vuitton gue aja gak semahal gitu”
“Michael bulan depan ke amrik,gue ada suruh dia nyari sandai Christian Louboutin yang lagi gue naksir berat nih,kemarin di singapura,nyari setengah mati di orchard gak ada,gak mau kalah ama you juga ah,Wid…hahaha.”sambung Lina.

Blackberry onyx warna putih Cathy berbunyi,sambil berjalan menjauh sebentar keluar sofa ,Cathy mengangkat teleponnya.

“siapa Cate?”Tanya Widya.
“laki gue,Alphard barunya barusan di tabrakin ama bajaj di lampu merah katanya”balas Cathy.




Jakarta,24 Juni 2010, 14:30WIB
Gang Warakas,Tanjung Priok



Tetes-tetes air sisa hujan masih menetes turun walau hujan telah berhenti beberapa saat,dan sebuah baskom plastik merah diletakkan untuk menampung air hasil tetesan tadi,rumah itu jauh dari layak disebut rumah,lebih tepatnya seperti gubuk,dengan dinding papan ala kadarnya,dan kertas Koran di tempel sana sini,dan tidak beraturan.Atap rumah di tutupi oleh atap seng,yang bila memandang keatas,rasanya akan seperti memandang bintang-bintang bila dimalam hari,berupa lubang seng yang bocor di sana-sini. Seorang gadis kecil sedang menuliskan pekerjaan sekolah yang diberikan oleh gurunya tadi pagi,hanya beralaskan sebuah meja kecil dengan papan yang dipaku sana sini,seperti
Sebuah meja yang terbentuk dari sisa-sisa bahan.

“bu,tadi siang Bu Guru minta wati sampaikan kepada ibu,kapan ada duit buat bayarin SPP sekolah?”
Wanita itu hanya diam tanpa mengatakan apa-apa,sementara gadis itu kembali menulis pelajaran sekolahnya,rambutnya terlihat kusut seperti dengan wajahnya,bajunya basah bukan karena air hujan,karena keringatan setelah setiap hari harus menerima pesanan mencuci baju di dua keluarga yang berbeda tidak jauh dari gubuknya tempat dia tinggal.
Setelah terdiam lama,”tolong katakan kepada Bu Guru,akhir bulan ini ibu akan lunasin.”
Sebenarnya selain harus berusaha melunasi keperluan biaya sekolah anak satu-satunya,dia harus berusaha melunasi hutang di warung depan,pemilik warung itu telah menagih terus dan mengancam tidak akan kasih barangnya lagi,bila tunggakan sebelumnya tidak dilunasi,sementara walaupun telah berusaha menambah upah cuci yang sebelumnya dia hanya bekerja cuci untuk satu majikan,itu sebelum
Suaminya meninggal karena penyakit TBC yang dideritanya bertahun-tahun.Setelah mendapat upah cuci
Dua keluarga pun,tetap saja tidaklah cukup untuk menutup semuanya tanpa harus berhutang,beruntung dia termasuk salah satu yang dapat bantuan langsung tunai dari pemerintah,itupun sudah lama berhenti.



Jakarta,24 Juni 2010, 14:30WIB
Perempatan Grogol,Jakarta Barat


Matahari siang yang panasnya terasa mengigit di siang itu,seorang lelaki tua,dengan rambutnya yang telah di penuhi oleh uban yang memutih,dan di sekeliling wajahnya juga dipenuhi oleh kumis dan berewokan yang juga telah memutih,tampak sedang duduk di samping trotoal jalan,dengan wajah terkantuk-kantuk,tidak tahu sudah berapa lama dia tidak beristirahat.Di badannya,sebuah kotak penuh hasil dagangan berupa air minum,rokok dan kotak tissue,dengan tali yang digantungkan ke bahu.Baju yang dikenakan tercium bau amis yang bisa membuat orang-orang akan menutupi hidungnya bila mendekat dengan jarak kurang dari satu meter.Mobil-mobil berhenti silih berganti di perempatan itu,saat rekan-rekan seprofesinya menawarkan dagangan mereka dengan berjalan di samping mobil-mobil yang berhenti sambil berucap,”haus mas?aqua,aqua”.Ada yang menawarkan rokok,”rokok mas?”.Lelaki tua itu tetap tidak mempedulikan dan tidak berusaha untuk merebut mendapatkan hasil jualan dengan yang lainnya,sesekali kepalanya menyundul kena pagar pembatas trotoar dan membangunkan dia sekejap,matanya memandang ke depan,kemudian menoleh ke kiri jalan,arah datangnya bus-bus penumpang.
“pak,pak bagi dua botol aquanya dulu,ada yang mau beli,kebetulan saya punya habis”serekan profesinya memanggil dan menghampiri dia,dan dia tetap tidak beranjak dari trotoar itu,hanya membiarkan temannya mengambil sendiri botol aquanya.






Jakarta,5 Juli 2010, 08:15 WIB
Perempatan Grogol,Jakarta



Panas terik terasa mencekik pagi itu,bagi pejalan kaki,bagi penjual asongan,bagi pengendara-pengendara motor,sopir bajaj dan penumpang,bus-bus metromini,si sopir satu tangannya memegang setir dan tangan satunya mengipas-ngipas badannya pakai kertas Koran.Manusia-manusia berlalu lalang tanpa henti,kebanyakan dengan kostum pakaian kerja,melangkahkan kaki dengan buru-buru.Di halte,orang-orang tampak berdiri berjejer menunggu bus-bus yang datang mengantarkan mereka ke tempat tujuan,tidak jauh dari situ,sebuah Alphard putih metalik model terbaru juga berhenti.
“Pak Sisno,tolong beli Koran Kompas satu ya”.Andi menyuruh sopirnya yang baru dipekerjakannya setelah sopir yang lama di pecat gara-gara sebuah keteledoran kecil,membuat Alphard barunya penyok,karena di tabrak oleh bajaj beberapa hari lalu.
Sambil membaca Headline berita Kompas,Andi sedikit tertuju pada sebuah tajuk cerita yang tertera di kolom bawah dengan judul Ironis sebuah Kehidupan Metropolitan Jakarta.Sebuah cerita disodorkan di Baris pertama,Andi tampak membaca dengan menyimak cerita itu sambil mengecek email yang masuk terus menerus dari blackberrynya.”hari ini tidak lagi mendengar suara indah Wati yang selalu menyapa ibunya dengan sapaan selamat pagi,tidak lagi dengar suara Wati yang selalu menyapa Ibu Titik,pemilik warung depan rumahnya yang kumuh,tidak lagi mendengar Wati yang jago bernyanyi di depan kelas,karena Wati yang lucu,yang pintar secara akademik,kemarin telah berpulang ke pangkuan Tuhan.Wati meninggal karena demam berdarah yang sudah seminggu dideritanya dan ibunya baru membawanya ke rumah sakit terdekat,namun semuanya sudah terlambat,pembuluh darahnya pecah,dan Wati terlambat untuk bisa di tolong,setelah ditanya kenapa Wati di biarkan berhari-hari,dengan berlinang air mata ibunya mengatakan bahwa dia tidak cukup biaya untuk membawa Wati berobat ke rumah sakit,dan setelah berhari-hari baru berhasil mendapatkan pinjaman dari majikannya.
Tempat dimana dia menerima upah cuci disitu.
“pi,kenapa tuh orang-orang pada berlari sih”Tanya cathy kepada suaminya,Andi.
“ Pak Sisno,coba kamu Tanya si tukang Koran itu,kenapa itu orang pada berlari-lari”suruh Andi kepada sopirnya.Tukang Koran itu menjawab dengan berbicara dalam bahasa jawa kepada sopirnya Andi.
“kata si tukang Koran,bus itu tabrak tewas seorang bapak tua pedagang asongan yang biasa berjualan di
Perempatan ini.”jelas Pak Sisno kepada sang majikan,disaat yang bersamaan,sebuah pesan masuk ke
Blackberrynya Cathy yang segera dibukanya.Sebuah pesan yang di kirim oleh sahabatnya,Widya dan pesannya “Cate,laki gue dah pulang tadi malam bersama dengan sandal Jimmy Choo special edition gue

Minggu, 13 Juni 2010

Kepergianmu kini....

Pohon-pohon yang kekeringan di waktu lalu,kini daun hijau kembali sudah memenuhi hampir semua Ranting-rantingnya,rumput-rumput liar yang tadinya mengering kini telah menjelma menjadi bak permadani hijau yang memenuhi halaman rumah,bunga-bunga kembali bermekaran di taman yang aku sudah lupa berapa lama telah di telantarkan.aku baru sadar setelah hijaunya pohon-pohon itu yang menari-nari di depanku karena tiupan angin,aku baru sadar saat berbagai jenis kupu-kupu,kumbang dan lebah yang datang menari dan menyanyi di depan taman bungaku,aku baru menyadarinya saat tiba-tiba seekor burung yang bernyanyi riang memanggil pasangannya tepat di atas kepalaku,hinggap di salah satu ranting pohon cemara di taman,seakan selama ini aku tertidur,dan terus tertidur dalam satu dunia yang di payungi dan dibatasi tembok akan kesedihan karena kepergianmu yang hantu pun mungkin tidak Pernah menduganya waktu itu,mengingat betapa aku dan dirimu bagai sepasang sumpit yang tanpa kamu ataupun diriku ,kita bukanlah sumpit,dan hanyalah sepotong batang bambu
Dan kamu pergi,diriku kembali menjadi sebatang bambu tanpa arti ,hingga hari ini,saat tiba-tiba aku di bangunkan oleh suara-suara indah yang di dengungkan dalam telingaku,angin-angin sejuk yang menyibak rambutku, warna-warna segar yang menjernihkan mataku,menebarkan aroma-aroma wangi
Dari taman bungaku,semua mengalir ke dalam jiwaku,seakan membangunkanku dari mimpi panjang.
Kepergianmu,membuatku hidup di antara dua dunia,dan dunia itu adalah remang-remang,bukanlah hitam ataupun putih,namun kelabu,bukanlah siang dan malam,namun siang ku jadikan malam dan malam ku jadikan siang.
Hari ini saat aku memandang dalam dunia pagiku yang indah,aku sadar,aku yang menutup duniaku dan mungkin duniamu juga,tapi dunia tidak pernah menutup untuk seorang diriku,selama ini aku selalu mengganggapnya kelabu tetapi dalam malamnya ia mendatangkan bintang bagiku,dan dalam siang ia mendatangkan mentari untukku.semua tetap berjalan begitu indah baik bersama dirimu ataupun tanpa dirimu.Dan pagi ini,aku menyapa dunia juga ku selipkan beberapa kata untuk menyapa dirimu.
“kamu baik-baik saja?semoga begitu”sesaat ku memandang seekor rajawali terbang jauh dalam langit biru,ia bebas pikirku,aku ingin menjadi rajawali itu,gumamku dalam hati.Selama ini kamu membiarkan aku memilikimu,dan aku merasa kamu bahagia dalam kebersamaanku,namun aku lupa kita semua bisa berubah,bagai musim-musim yang berganti,saat cinta laksana bunga indah bermekaran,kita berdua mabuk dalam asmara,dan kita mabuk berbulan-bulan dan bertahun-tahun hingga suatu saat bunga kembali berguguran,kita tersadar dari mabuk itu dan suatu hari kamu hanya meninggalkan secarik kertas Berisi permintaan maafmu dan kamu pun pergi,lalu aku terjatuh,terpukul,hingga luluh lantakkan dalam jiwaku.

“cinta tidak bisa dimiliki dan memiliki”harusnya aku sadar,aku tidak bisa juga menyalahkan egoismu.
Semua memang dari ada menjadi tiada dan tiada menjadi ada,datang dan pergi.”aku mengerti,sayang.bukan karena pergimu atau hadirmu,karena hidup terus berjalan ada ataupun tiada dirimu dalam sisiku”

(spesial for their who ever maybe have same situation like this story)