Kamis, 29 Juli 2010

Sebuah Cerita Tentang Sebuah Potret


Jakarta,24 juni 2010, 14:30WIB
Lamoda cafe,Plaza Indonesia

Unchained melody dimainkan begitu indah oleh seorang pianis yang menghibur tamu-tamu yang bersantai ria di salah satu café bergengsi di salah satu tempat shopping centre kelas atas Jakarta,
Para tamu yang rata rata wanita usia diatas kepala tiga sibuk dalam percakapan yang menyenangkan diantara mereka,ada beberapa sibuk memainkan blackberry mereka di tangan,namun sekali-kali tertawa cekikikan,tenggelam dalam dunia maya mereka.
“Lin,eh loe udah nonton Sex and The City belom?”sambil membalas BBM yang masuk dari blackberrynya,Cathy bertanya pada Lina,salah satu best friendnya,teman satu group arisan dan juga teman satu alumni ketika mereka mengambil kuliah S2 di New Soulth Wales University,Sydney.

“gue kemarin nonton di Pasific Place ama hubby gue,eh loe tahu nggak Lin,si Sarah di film itu sekarang
Dah terasa banget tuanya,haha..tapi,gaun warna peraknya di situ anggun banget”sambung Cathy.
“oh,gaun yang sama yang di gambar cover itu ya,iya emang ok banget tuh gaun,eh loe tahu design siapa itu,maksud gue merknya”balas Lina.

“kata teman gue,si Diana,katanya Emilio Pucci punya rancangan,Diana kan salah satu columnis di majalah High End kan,yang gitu-gitu udah so pasti dia lebih up to date dibanding gue”balas Widya yang juga teman satu grup mereka.”by the way,gue lagi senang nih,haha,kemarin malam laki gue telp gue,dia kan emang lagi di Paris,katanya dia ada beliin satu sandal high heel jimmy choo special edition,yang itu
Cate(panggilan buat Cathy)yang pernah gue kasih loe liat di bb gue dua minggu lalu,masih ingat gak,Yang gue bilang lagi dibahas di majalah The Vogue edisi terbaru itu loh!”
“masaaaaaaaaaa”teriak Lina yang seakan terkejut dengan apa yang baru dia dengarkan barusan.”si Sarah di sex and the city aja kalah ama loe,Wid”
Sambil tertawa puas karena telah membuat teman-temannya kaget dan membuat dirinya seakan akan berada dalam kondisi high confidence,Widya menambahkan lagi,”dan yang lebih kaget lagi,tahu nggak harganya berapa,laki gue harus rogoh koceknya lima ribu euro buat dapatin tuh sandal”

“eitttt,tunggu tunggu,satu euro berapa rupiah ya?”Tanya cathy.”kitar sepuluh ribu rupiah gitulah”balas Widya yang tampak bangga dengan berhasil memamerkan prestige dia ke teman-temannya.

“siettttttt”celutuk si Cathy tiba-tiba”sandal loe harganya lima puluh juta rupiah Wid,tiga tas Louis vuitton gue aja gak semahal gitu”
“Michael bulan depan ke amrik,gue ada suruh dia nyari sandai Christian Louboutin yang lagi gue naksir berat nih,kemarin di singapura,nyari setengah mati di orchard gak ada,gak mau kalah ama you juga ah,Wid…hahaha.”sambung Lina.

Blackberry onyx warna putih Cathy berbunyi,sambil berjalan menjauh sebentar keluar sofa ,Cathy mengangkat teleponnya.

“siapa Cate?”Tanya Widya.
“laki gue,Alphard barunya barusan di tabrakin ama bajaj di lampu merah katanya”balas Cathy.




Jakarta,24 Juni 2010, 14:30WIB
Gang Warakas,Tanjung Priok



Tetes-tetes air sisa hujan masih menetes turun walau hujan telah berhenti beberapa saat,dan sebuah baskom plastik merah diletakkan untuk menampung air hasil tetesan tadi,rumah itu jauh dari layak disebut rumah,lebih tepatnya seperti gubuk,dengan dinding papan ala kadarnya,dan kertas Koran di tempel sana sini,dan tidak beraturan.Atap rumah di tutupi oleh atap seng,yang bila memandang keatas,rasanya akan seperti memandang bintang-bintang bila dimalam hari,berupa lubang seng yang bocor di sana-sini. Seorang gadis kecil sedang menuliskan pekerjaan sekolah yang diberikan oleh gurunya tadi pagi,hanya beralaskan sebuah meja kecil dengan papan yang dipaku sana sini,seperti
Sebuah meja yang terbentuk dari sisa-sisa bahan.

“bu,tadi siang Bu Guru minta wati sampaikan kepada ibu,kapan ada duit buat bayarin SPP sekolah?”
Wanita itu hanya diam tanpa mengatakan apa-apa,sementara gadis itu kembali menulis pelajaran sekolahnya,rambutnya terlihat kusut seperti dengan wajahnya,bajunya basah bukan karena air hujan,karena keringatan setelah setiap hari harus menerima pesanan mencuci baju di dua keluarga yang berbeda tidak jauh dari gubuknya tempat dia tinggal.
Setelah terdiam lama,”tolong katakan kepada Bu Guru,akhir bulan ini ibu akan lunasin.”
Sebenarnya selain harus berusaha melunasi keperluan biaya sekolah anak satu-satunya,dia harus berusaha melunasi hutang di warung depan,pemilik warung itu telah menagih terus dan mengancam tidak akan kasih barangnya lagi,bila tunggakan sebelumnya tidak dilunasi,sementara walaupun telah berusaha menambah upah cuci yang sebelumnya dia hanya bekerja cuci untuk satu majikan,itu sebelum
Suaminya meninggal karena penyakit TBC yang dideritanya bertahun-tahun.Setelah mendapat upah cuci
Dua keluarga pun,tetap saja tidaklah cukup untuk menutup semuanya tanpa harus berhutang,beruntung dia termasuk salah satu yang dapat bantuan langsung tunai dari pemerintah,itupun sudah lama berhenti.



Jakarta,24 Juni 2010, 14:30WIB
Perempatan Grogol,Jakarta Barat


Matahari siang yang panasnya terasa mengigit di siang itu,seorang lelaki tua,dengan rambutnya yang telah di penuhi oleh uban yang memutih,dan di sekeliling wajahnya juga dipenuhi oleh kumis dan berewokan yang juga telah memutih,tampak sedang duduk di samping trotoal jalan,dengan wajah terkantuk-kantuk,tidak tahu sudah berapa lama dia tidak beristirahat.Di badannya,sebuah kotak penuh hasil dagangan berupa air minum,rokok dan kotak tissue,dengan tali yang digantungkan ke bahu.Baju yang dikenakan tercium bau amis yang bisa membuat orang-orang akan menutupi hidungnya bila mendekat dengan jarak kurang dari satu meter.Mobil-mobil berhenti silih berganti di perempatan itu,saat rekan-rekan seprofesinya menawarkan dagangan mereka dengan berjalan di samping mobil-mobil yang berhenti sambil berucap,”haus mas?aqua,aqua”.Ada yang menawarkan rokok,”rokok mas?”.Lelaki tua itu tetap tidak mempedulikan dan tidak berusaha untuk merebut mendapatkan hasil jualan dengan yang lainnya,sesekali kepalanya menyundul kena pagar pembatas trotoar dan membangunkan dia sekejap,matanya memandang ke depan,kemudian menoleh ke kiri jalan,arah datangnya bus-bus penumpang.
“pak,pak bagi dua botol aquanya dulu,ada yang mau beli,kebetulan saya punya habis”serekan profesinya memanggil dan menghampiri dia,dan dia tetap tidak beranjak dari trotoar itu,hanya membiarkan temannya mengambil sendiri botol aquanya.






Jakarta,5 Juli 2010, 08:15 WIB
Perempatan Grogol,Jakarta



Panas terik terasa mencekik pagi itu,bagi pejalan kaki,bagi penjual asongan,bagi pengendara-pengendara motor,sopir bajaj dan penumpang,bus-bus metromini,si sopir satu tangannya memegang setir dan tangan satunya mengipas-ngipas badannya pakai kertas Koran.Manusia-manusia berlalu lalang tanpa henti,kebanyakan dengan kostum pakaian kerja,melangkahkan kaki dengan buru-buru.Di halte,orang-orang tampak berdiri berjejer menunggu bus-bus yang datang mengantarkan mereka ke tempat tujuan,tidak jauh dari situ,sebuah Alphard putih metalik model terbaru juga berhenti.
“Pak Sisno,tolong beli Koran Kompas satu ya”.Andi menyuruh sopirnya yang baru dipekerjakannya setelah sopir yang lama di pecat gara-gara sebuah keteledoran kecil,membuat Alphard barunya penyok,karena di tabrak oleh bajaj beberapa hari lalu.
Sambil membaca Headline berita Kompas,Andi sedikit tertuju pada sebuah tajuk cerita yang tertera di kolom bawah dengan judul Ironis sebuah Kehidupan Metropolitan Jakarta.Sebuah cerita disodorkan di Baris pertama,Andi tampak membaca dengan menyimak cerita itu sambil mengecek email yang masuk terus menerus dari blackberrynya.”hari ini tidak lagi mendengar suara indah Wati yang selalu menyapa ibunya dengan sapaan selamat pagi,tidak lagi dengar suara Wati yang selalu menyapa Ibu Titik,pemilik warung depan rumahnya yang kumuh,tidak lagi mendengar Wati yang jago bernyanyi di depan kelas,karena Wati yang lucu,yang pintar secara akademik,kemarin telah berpulang ke pangkuan Tuhan.Wati meninggal karena demam berdarah yang sudah seminggu dideritanya dan ibunya baru membawanya ke rumah sakit terdekat,namun semuanya sudah terlambat,pembuluh darahnya pecah,dan Wati terlambat untuk bisa di tolong,setelah ditanya kenapa Wati di biarkan berhari-hari,dengan berlinang air mata ibunya mengatakan bahwa dia tidak cukup biaya untuk membawa Wati berobat ke rumah sakit,dan setelah berhari-hari baru berhasil mendapatkan pinjaman dari majikannya.
Tempat dimana dia menerima upah cuci disitu.
“pi,kenapa tuh orang-orang pada berlari sih”Tanya cathy kepada suaminya,Andi.
“ Pak Sisno,coba kamu Tanya si tukang Koran itu,kenapa itu orang pada berlari-lari”suruh Andi kepada sopirnya.Tukang Koran itu menjawab dengan berbicara dalam bahasa jawa kepada sopirnya Andi.
“kata si tukang Koran,bus itu tabrak tewas seorang bapak tua pedagang asongan yang biasa berjualan di
Perempatan ini.”jelas Pak Sisno kepada sang majikan,disaat yang bersamaan,sebuah pesan masuk ke
Blackberrynya Cathy yang segera dibukanya.Sebuah pesan yang di kirim oleh sahabatnya,Widya dan pesannya “Cate,laki gue dah pulang tadi malam bersama dengan sandal Jimmy Choo special edition gue”

Minggu, 13 Juni 2010

Kepergianmu kini....

Pohon-pohon yang kekeringan di waktu lalu,kini daun hijau kembali sudah memenuhi hampir semua Ranting-rantingnya,rumput-rumput liar yang tadinya mengering kini telah menjelma menjadi bak permadani hijau yang memenuhi halaman rumah,bunga-bunga kembali bermekaran di taman yang aku sudah lupa berapa lama telah di telantarkan.aku baru sadar setelah hijaunya pohon-pohon itu yang menari-nari di depanku karena tiupan angin,aku baru sadar saat berbagai jenis kupu-kupu,kumbang dan lebah yang datang menari dan menyanyi di depan taman bungaku,aku baru menyadarinya saat tiba-tiba seekor burung yang bernyanyi riang memanggil pasangannya tepat di atas kepalaku,hinggap di salah satu ranting pohon cemara di taman,seakan selama ini aku tertidur,dan terus tertidur dalam satu dunia yang di payungi dan dibatasi tembok akan kesedihan karena kepergianmu yang hantu pun mungkin tidak Pernah menduganya waktu itu,mengingat betapa aku dan dirimu bagai sepasang sumpit yang tanpa kamu ataupun diriku ,kita bukanlah sumpit,dan hanyalah sepotong batang bambu
Dan kamu pergi,diriku kembali menjadi sebatang bambu tanpa arti ,hingga hari ini,saat tiba-tiba aku di bangunkan oleh suara-suara indah yang di dengungkan dalam telingaku,angin-angin sejuk yang menyibak rambutku, warna-warna segar yang menjernihkan mataku,menebarkan aroma-aroma wangi
Dari taman bungaku,semua mengalir ke dalam jiwaku,seakan membangunkanku dari mimpi panjang.
Kepergianmu,membuatku hidup di antara dua dunia,dan dunia itu adalah remang-remang,bukanlah hitam ataupun putih,namun kelabu,bukanlah siang dan malam,namun siang ku jadikan malam dan malam ku jadikan siang.
Hari ini saat aku memandang dalam dunia pagiku yang indah,aku sadar,aku yang menutup duniaku dan mungkin duniamu juga,tapi dunia tidak pernah menutup untuk seorang diriku,selama ini aku selalu mengganggapnya kelabu tetapi dalam malamnya ia mendatangkan bintang bagiku,dan dalam siang ia mendatangkan mentari untukku.semua tetap berjalan begitu indah baik bersama dirimu ataupun tanpa dirimu.Dan pagi ini,aku menyapa dunia juga ku selipkan beberapa kata untuk menyapa dirimu.
“kamu baik-baik saja?semoga begitu”sesaat ku memandang seekor rajawali terbang jauh dalam langit biru,ia bebas pikirku,aku ingin menjadi rajawali itu,gumamku dalam hati.Selama ini kamu membiarkan aku memilikimu,dan aku merasa kamu bahagia dalam kebersamaanku,namun aku lupa kita semua bisa berubah,bagai musim-musim yang berganti,saat cinta laksana bunga indah bermekaran,kita berdua mabuk dalam asmara,dan kita mabuk berbulan-bulan dan bertahun-tahun hingga suatu saat bunga kembali berguguran,kita tersadar dari mabuk itu dan suatu hari kamu hanya meninggalkan secarik kertas Berisi permintaan maafmu dan kamu pun pergi,lalu aku terjatuh,terpukul,hingga luluh lantakkan dalam jiwaku.

“cinta tidak bisa dimiliki dan memiliki”harusnya aku sadar,aku tidak bisa juga menyalahkan egoismu.
Semua memang dari ada menjadi tiada dan tiada menjadi ada,datang dan pergi.”aku mengerti,sayang.bukan karena pergimu atau hadirmu,karena hidup terus berjalan ada ataupun tiada dirimu dalam sisiku”

(spesial for their who ever maybe have same situation like this story)

Minggu, 22 November 2009

senja terakhir


Angin berhembus kencang,menyibak tirai jendela yang terbuka,secercah cahaya senja menerobos masuk melalui cerah tirai jendela yang tersibak oleh angin.Sinar merahnya jatuh ke sebuah cermin hias yang kemudian dipantulkan kebelakang,membuat kamar itu terasa terang bagai disinari lampu sorot.Kamar yang sudah lama dia biarkan kosong,ka-
mar yang dulu menjadi saksi kemesraan mereka berdua,saksi mati saat mereka bercium mesra,berpelukan mesra di ranjang,saksi saat mereka bercinta,saat mereka saling merangkul menatap senja di sore hari.Kamar dengan jendela pintu kayu itu memang
berada dalam posisi menghadap arah barat,dengan hamparan pepohonan pinus dilereng
dan kemilaunya laut sore didepannya.Sebuah villa yang mereka beli saat mereka berdua baru terikat tali kasih asmara,setelah menikah mereka memutuskan untuk dijadikan
tempat tinggal,walau harus menempuh perjalanan yang lumayan memakan waktu untuk
ke kota,tempat dimana dia bekerja,namun mereka berdua adalah sepasang suami istri dengan karakter yang sama,sama sama tidak menyukai keramaian kota,hiruk pikuk berbagai suara dan bunyi yang di timbulkan oleh sisi sisi materialisme manusia kota.
alam bagi mereka adalah rumah jiwa,rumah dimana tempat mereka merasa menemukan
jati diri mereka yang sebenarnya,tempat dimana mereka merasa jiwa mereka menyatu dalam suara suara yang ditaburkan oleh alam itu sendiri.Rumah itu telah menjadi saksi kunci sebuah ikatan penyatuan dua jiwa yang sama selama delapan belas tahun lamanya,
bagai dua keping puzzle yang tersusun rapat dalam setiap lekukannya,sebelum salah satunya lepas,sebelum saat sang waktu datang untuk melepaskan kepingan puzzle itu.

Senja sore itu,angin berhembus kencang,mungkin tiupan angin di musim kemarau memang berhembus lebih kencang dari bulan bulan sebelumnya,ujung pohon pinus yang ada di depan rumah terasa menari nari,seakan mengibas-ngibas ekornya kesana kemari
bersama dengan irama angin yang meniupnya,secercah sinar senja menembus melalui
cerah cerah ranting pohon pohon itu,terdengar deburan ombak dari kejauhan,sesekali
segerombolan burung terbang melewati di hadapannya.Dia duduk di kursi goyang itu,
menatap dengan tatapan kosong ke depan,sesekali dia menbetulkan rambutnya yang berantakan akan tiupan angin,sesekali dia menatap sebuah kursi goyang yang sama di sampingnya,seperti sebuah kursi kesepian yang ditinggal pemiliknya,kursi itu sekarang
seperti telah kehilangan rasa dan jiwa,kursi dimana tempat mereka mengukir kisah,kisah
saat mereka berdua menikmati senja sore ditiap kali hari minggu atau hari dimana dia bisa pulang lebih awal dan mendapatkan senja belum bersembunyi dibalik pohon-pohon
pinus itu.

Setahun yang lalu,di ruangan dokter
Mereka berdua duduk menatap dokter yang lumayan lama terdiam sambil memeriksa
hasil foto rontgen dan laboratorium test,sesekali dokter memandang ke wajah mereka.
masih terdiam lalu..”sudah berapa lama ibu merasakan gejala ini”akhirnya dokter itu membuka suara.”kurang dari setahun ini dok,badan saya cenderung sering lemas dan terakhir ini beberapa kali saya pingsan secara tiba tiba”,sambil mengengam tangan suaminya.Dokter diam sejenak,”ehmm..keluarga ibu apakah ada yang pernah atau punya sejarah kanker?”terasa nada yang berat di beberapa kata terakhir yang di ucapkan oleh dokter itu.Mereka saling berpandangan,kedua pasang bola mata mereka dalam sekejap
Terlihat basah,dan meneteslah ke bawah.ia teringat bagaimana ayahnya meninggal
Dikala ia masih kecil,ibunya waktu dulu mengatakan bahwa ayahnya terkena penyakit misterius yang tidak ada obat penyembuhnya,belum sempat ia menjawab,dokter telah
Menimpali”ibu terkena kanker darah..”kedua tubuh itu langsung terasa lemas,tetes demi tetes air mata itu jatuh,sambil berkaca kaca dan berusaha untuk tegar ia memandang wajah istrinya lalu menatap dokter itu,”kami masih punya waktu berapa lama?”
“mungkin tujuh atau sembilan bulan” lalu menuliskan resep dan menyodorkan kepada mereka.

Enam bulan yang lalu,sore hari.
Sore itu,rerumputan masih basah,daun daun tanaman bunga masih menyisahkan butiran-butiran air,angin terasa dingin meniup dengan kencang,gerimis gerimis kecil masih menetes,sisa dari hasil hujan satu jam yang lalu.akhirnya sinar itu keluar juga dari balik awan,sore itu terasa indah sekali,siluet senja yang begitu indah.senja sehabis hujan
Memang berbeda dengan senja di hari biasa,semua warna bercampur melukis di kanvas langit menghasilkan satu lukisan indah yang harmoni.mereka duduk berdua di kursi itu,tubuhnya sudah jauh berubah,setahun yang lalu tubuh itu masih bisa dengan gesit meliuk liuk seperti model yang berjalan di catwalk.saat senja di sore itu dengan keindahan puncaknya sebelum tenggelam di balik pohon pohon pinus itu,ia berujar sambil menatap ke arah suaminya..
“mungkin ini senja terindah terakhir yang saya nikmati bersama dengan kamu.sayang”
“bagiku setiap senja itu indah,besok ataupun lusa,tetaplah masih sneja terindah yang masih kita nikmati bersama”suaminya membalas sambil menatap dan mengusap pipi yang basah oleh air mata yang jatuh.
Pelahan lahan senja sore itu menghilang,lalu semakin gelap dan gelap.

Hari ini,sore,senja.
Dia duduk begitu tenang,begitu sunyi,suara desiran ombak dari jauh,cahaya senja yang dalam hitungan menit akan berakhir,ujung-ujung pohon pinus yang berliuk liuk,seakan akan menari untuk melepaskan sebuah kepergian,dia menatap ke samping,sebuah kursi goyang kosong itu,sambil berucap”sayang,kita akan bersama lagi,tunggulah…”lalu melihat secarik kertas di tangan dengan beberapa kalimat hasil coretan,dan meletakannya dipangkuan,lalu terdiam,semuanya menjadi tenang,sunyi.Angin lalu meniup kertas itu,terbang bersama dengan coretannya untuk senja terakhir.
walau kamu tetap hadir setiap sore dengan cahyamu
indah bersenandung dalam deburan ombak
namun dalam cahyamu ku melihat dia
seakan semuanya menyatu,
rasanya,senja sore ini
cukuplah bagiku untuk melihat kamu yang terakhir
ku minta sudimu tuk berbagi
satu tempat diriku dan dirinya dalam cahyamu
maka ku sebut,inilah senja terakhir

Senin, 01 Desember 2008

malam malam kini tanpamu

Pagi ini,saat tidak biasanya sebuah sms masuk mengusik heningku,saat aku lagi
Asyik membaca berita di koran pagi.Dan aku sedikit kaget setelah mengetahui ternyata
Kamu yang menyapa aku dipagi ini.Bagiku,kamu telah menghilang jauh,menghilang entah kemana.bila kita sebuah tim,kamu telah aku keluarkan dari sebuah tim itu.Namun,
Aku sangat rindu padamu,jujur aku merasa sangat kehilanganmu,hanya karena egoku,tak mungkin aku mengakui itu padamu.saking merasa sangat kehilanganmu,ini ku anggap
dan terus berusaha mengganggap kamu tidak pernah hadir dalam hidupku.Kamu mungkin tidak tahu bahwa semua nomor teleponmu telah aku hapus,itu juga bagian dari sebuah cara bagiku untuk menggangap keberadaamu saat dulu tidak pernah exist,menganggap keberadaanmu hanyalah ilusi semata,sebuah tokoh fiksi dalam sebuah cerpen ataupun novel bersambung.Tentu kamu akan marah jika kamu emang mengetahui sebegitu dalamkah aku untuk menghilangkan jejakmu dalam hidupku.Hari ini pun,saat sms kamu masuk,betapa aku berharap aku telah berhasil melupakanmu,nomor nomormu,berharap aku bisa berucap”ini siapa ya?,nomormu tidak ada di phonebook aku.”Tentu kamu akan sangat marah dan tidak mungkin lagi kamu akan membalas sms itu,dan pasti menganggap diriku sangat sombong hingga hanya sekejap telah melupakanmu.dan bagiku seandainya itu terjadi,kamu membenciku dan aku tidak ingat lagi siapa dirimu.Beginilah kita berakhir dengan sebuah proses alamiah,mungkin tidak benar kata alamiah bagimu,namun bagiku alamiah terasa pas karena memang secara impulsif aku telah
melupakanmu.
Kini,bila malam datang sepiku kian terasa.Kamu yang biasa selalu menyapa dikala malam,bertanya tentang apa yang sedang aku lakukan,bertanya tentang info info film terbaru,meminta pendapatku tentang lagu lagu,sampai kamu suka menuangkan curahan hatimu soal keluargamu,tentang pacarmu,tentang temanmu.Masih ingatkah kamu waktu
Kita membahas tentang sebuah serial,semua adegan yang aku suka juga merupakan adegan yang kamu suka.Kecocokan kita teramat sangat soal film.Adegan dimana si cewek
membahas soal cinta dengan temannya,teman si cewek mengatakan bahwa dia sangat
menyukai cowok yang berpenampilan keren,tubuh yang kekal,yang selalu bercelana
jeans,dan cewek itu membalasnya”itu bukan cinta,kalo cinta,kamu tidak akan mempe-
dulikan apa yang dipakai oleh kekasihmu,bagaimana posturnya,apa yang terjadi den-
gannya,kamu akan selalu mencintainya”.Masih ingatkah kamu dengan adegan itu?
Ada satu adegan lagi yang selalu kita bahas,saat seorang pria yang sangat menyukai
si wanita,namun wanita itu sama sekali tidak mencintainya,saat pria itu mengejar wanita itu di pantai,wanita itu menyuruh pria itu menjawab pertanyaanya.Masih ingatkah kamu
akan pertanyaan si wanita itu,aku yakin kamu masih ingat.Wanita itu menyuruh pria itu
menjawab,berikan alasan kenapa pria itu mencintai dia,tapi pria itu sama sekali tidak bisa
menjawab kenapa dia mencintai wanita itu.Di situ kita sepakat bahwa kadang cinta itu
tidak perlu ada alasan,kita mencintainya karena memang kita mencintainya,kita tidak tahu juga kenapa bisa mencintainya.Kita ngobrol tentang musim musim yang disukai.
Kamu mengatakan padaku,kamu menyukai musim gugur,daun daun yang menguning,
Daun daun yang berterbangan,ranting ranting kering,namun kamu juga bilang padaku kamu menyukai salju,itulah topik topik yang kita bahas dikala semuanya mungkin telah tertidur lelap.
Kini,malam malam datang tanpa ada menyertai dirimu lagi.Aku merasa kamu telah
terlepas dengan malam yang datang menyambutku,seperti sebuah kereta yang terus mem
bawaku berlaju,malam malam dulu,kita berdua dalam kereta itu,namun malam malam kini kamu telah berhenti di stasiun pemberhentian dan kamu keluar meninggalkanku seorang diri kini dalam kereta yang terus melaju.Saat malam malam bersamamu,saat emosi aku sedang kacau,aku merasa sangat lelah,semakin kamu menyapaku,semakin aku
merasa lelah dan mungkin aku merasa hati yang perih,mungkin juga karena egoku.Kamu
tahu kenapa aku lelah,bersamamu aku hanya bisa mendengar suaramu dengan terpisah
oleh jarak yang jauh.Aku tak sanggup meraihmu,menatapmu,melihat ekpresimu,melihat senyummu,kamu juga yang menolak untuk aku gapai.Kamu tahu,kadang betapa tersiksa-
nya perasaan ini,bagaikan disaat aku kehausan,aku hanya memandang segelas orange juice dari balik kaca yang tak mampu aku mengambilnya.Tapi,cinta tidak untuk memiliki
dan dimiliki,karena cinta hanya hidup untuk cinta.Begitu yang pernah saya baca dari sebuah buku sastra.
Kamu tahu?malam malam bersamamu aku telah tahu,suatu saat akan berakhir dan telah lama aku mempersiapkan diri ini untuk menghadapinya,menghadapi tanpa keha-
diranmu.Dan akhirnya sebuah hari penantian kamu sampaikan kepadaku.Saat aku jalan
jalan di sebuah pantai,teleponmu masuk,kita mengobrol santai,kamu mengatakan beta-
pa rindunya kamu akan suasana pantai,namun di akhir percakapan,kamu memberitahuku
kamu berdua telah memilih dan menetapkan sebuah hari pernikahan.Kata katamu men-
yumbat mulutku,walau tidak kamu sadari.Aku terpaku,aku terpana,mataku kosong mena-
tap gelombang ombak di depan,terasa hampa mendengar suara desiran angin yang berhembus kencang.Bagiku,saat itu seakan semuanya berhenti,waktupun berhenti dan mendapati diriku berada di ruang yang hampa.Mungkin tidak kamu sadar,itulah kata kata yang paling takut bagiku untuk didengar.
Hari hari terus berjalan,kamu tahu,malam malam tidak semesra dulu,kala pertama kali kita berkenalan,kala kita berdiskusi tentang film-filmdan apakah kamu tahu juga,saat
aku sedang jalan jalan di mal,berkali-kali aku berpapasan denganmu,memdapatimu ber-
gandengan mesra dengan calon suamimu,namun berkali-kali juga berhasil aku melepaskan diri dari pandanganmu,seakan kamu tidak merasakan keberadaanku.Jujur ku katakan,tak sanggup diri ini menemuimu,sekedar berpapasan denganmu saja aku tidak sanggup.
Akhirnya,hari penantian itu tiba dengan datangnya sebuah kartu undangan darimu.
Kamu tahu,aku memikirkan beberapa skenario untuk itu.skenario untuk tidak hadir dalam
hari sakralmu,skenario hanya hadir untuk menyapa dan pergi setelah itu,sampai skenario
pergi dengan bergandengan seorang cewek.Alangkah bodohnya diriku ini,ha ha.semua
skenario itu hanya mendatangkan luka di hati.Akhirnya aku memilih datang sendiri,kamu
terasa senang melihat kedatanganku,bagiku sendiri kedatangan ini sekaligus perpisahan
itu sendiri.tidak lupa kamu memintaku foto bersama,sungguh ingin memenuhi permin-
taanmu,namun tahukah kamu ku sembunyikan luka ini di hati.Dari jauh ku memandang
mu,bagiku itu cukup sudah,bagian akhir dari sebuah kisah,dan aku pun melangkah keluar.
Apakah kamu ada mencariku,menyisiri semua ruangan untuk melihatku,memanggilku
untuk foto bersamamu..ah,bagiku toh semuanya itu tidak penting,yang terpenting adalah
kisah ini berakhir.
Kini,malam ini,aku bercerita tentang kisah kita.Bagiku,peranmu telah habis.hanya
penggantimu belum aku temukan,mungkin tidak ada yang sepadan menggantikanmu.
Aku terkejut,handphone aku berdering,sebuah sms masuk,mengingatkanku padamu.
ternyata..ha ha.”Pelanggan yang terhormat,nikmatilah tarif 0,01 detik di bulan Desember
dari jam 12 malam sampai jam 8 pagi,bla bla bla….”

Sabtu, 29 November 2008

Cerita Seorang Pelukis




Orang-orang yang mengunjungi pameran lukisan hasil karya-karyaku selalu melemparkan pertanyaan yang sama kepadaku.Mereka selalu menanyakan kenapa dalam setiap lukisan yang aku pamerkan selalu terdapat satu atau pun dua lukisan yang melukisakan punggung seseorang.Aku selalu melukiskan seseorang dari belakang yang hanya menampakkan punggungnya,dan tidak ada yang menampakkan wajahnya.Memang,itu semua disengaja oleh aku selaku pelukisnya.Umumnya,objek lukisanku adalah seorang gadis.Namun kalau sudah bosan dengan seorang gadis,akan ku gantikan objeknya dengan seorang Ibu,namun kadang aku mengantikannya dengan seorang kakek tua.Untuk membuat orang-orang yang mengamati lukisanku mengerti akan objek yang aku lukiskan,apa ia seorang Ibu tua,Kakek tua,ataupun seorang gadis belia yang cantik,aku akan melukiskan seorang gadis belia dengan rambutnya yang indah,bentuk badannya yang ramping,lekukan tubuhnya,jadi orang-orang akan tahu ia seorang gadis yang cantik.Seorang ibu tua akan aku lukiskan dengan bentuk badannya yang agak berisi atau pun lebih kerempeng ditambah dengan rambutnya yang lebih urakan,begitu juga denganseorang kakek tua.Seorang gadis belia duduk sendiri di tepi dermaga di kala sunset mulai turun pelahan,ada kapal-kapal nelayan yang berlayar,ada lambaian pohon-pohon kelapa yang ditiup angin.Namun kadang juga aku lukiskan keadaan itu dalam keadaan malam,dimana akan aku tampilkan dengan bulan purnama,cahayanya yang remang-remang dibiaskan bersama gelombang air laut yang bergerak sudah menjadi ciri khas dalam lukisanku .
Orang-orang bertanya kepadaku apa arti dari lukisan itu.Akan aku suruh dia berdiri dengan tenang.Kendorkan otot-ototnya,fokuskan pandangan ke lukisanku,gunakan imajinasi untuk berpikir.Namun karena banyak orang-orang yang bodoh yang tidak tahu tentang seni,terpaksa aku buka suara,terpaksa aku menjawab kenapa aku selalu melukis punggung seseorang,dan ku jawab dengan perkataan yang agak tegas.”tidakkah kalian merasa bahwa memandang seseorang dari belakang lebih indah dari pada memandang dari depan”dan aku melanjutkan”tidakkah kalian merasa bahwa lukisan punggung itu sengaja dilukis untuk membuat kalian penasaran?”.
“Penasaran apa?”,ada seseorang yang bertanya.
Aku diam sejenak,”penasaran akan sesuatu dalam dirinya,diri dari seseorang yang ada dalam lukisan itu,penasaran akan perasaan seseorang itu,apakah ia sedih,apakah ia sedang risau,apakah ia sedang bahagia.kita hanya bisa menebaknya,namun tidak bisa memastikan.Bukankah itu indah..!membiarkan sebuah pertanyaan tanpa jawaban,karena itu hanya sebuah lukisan,sesuatu yang tidak begerak,dan terbentuk dari coretan kanvas..”.
Semua menjadi diam,ada yang mengangguk kepala tanda mengerti,ada yang mengenjutkan dahi tanda binggung,namun itulah seni dan tetap aku tidak peduli,apakah mereka mengerti atau tidak.Aku hanya Ingin menumpahkan semua perasaan aku dalam kanvas.Tidak ada yang berani mangatakan bahwa aku egois.Bukankah dalam seni,aku bebas mengungkapkan apa saja,walaupun kadang tahu bahwa sesuatu itu tidak layak aku ungkapkan,namun aku tidak mau menyimpannya dalam hati,karena hatiku akan terasa sakit,kadang imajinasiku membawa aku ke ambang kegilaan,namun ku akui,kegilaan itu kadang aku nikmati.
Tapi,kenapa hanya suka melukis punggung-punggung manusia,kenapa tidak dengan dada mereka yang selalu mewakili sensualitas kewanitaan,aku akan menjawab hanya karena aku mau mencari misteri dibalik punggung-punggung itu.Mungkin juga karena aku seorang pelukis yang penuh dengan misteri.
Kembali aku lukiskan seorang wanita muda duduk seorang diri dibangku taman kota.Langit sengaja aku lukiskan agak mendung dengan warna yang agak abu-abu disertai hitam mengumpal.Pohon-pohon aku lukiskan daunnya mulai berjatuhan,hanya meninggalkan ranting-ranting,daun-daunnya kulukiskan dengan warna merah,bertanda musim gugur sedang berlangsung.Ditaman itu,selain pohon,terdapat beberapa tanaman hias.Depannya terdapat sebuah lapangan yang luas,beberapa pohon menjulang tinggi tanpa daun hanya menyisakan ranting ,tidak ada orang-orang yang kelihatan selain hanya gadis itu seorang diri.Duduk tenang,punggungnya ku lukiskan dengan indah,rambutnya lurus panjang,dengan sehelai selendang bulu dibalut dilehernya dan dengan sepotong mantel tebal yang dikenakan dibadannya.Apa yang membuat wanita itu duduk diam melawan cuaca yang begitu dingin dan seorang diri di taman itu.Dia menunggu kekasihnya,seorang pria yang hidup didalam memorinya,tapi tidak hidup lagi dalam realita.Seorang pria yang telah mengisi hatinya selama bertahun-tahun,seorang pria yang telah membuat dia jatuh dalam kekuatan cinta,yang telah membuat dia dari tertawa sekarang menjadi diam membisu,yang telah membawa dia ke tepi batas kewarasan,seorang pria yang telah membuat hidupnya bahagia sebelum pria itu tiba tiba lenyap meninggalkannya.Kenapa pria itu tiba-tiba meninggalkannya?Bukankah pria itu juga sangat mencintainya,bukankah pria itu yang selalu setia menunggu dia di taman itu,bukankah pria itu yang selalu mengirim sebuah lukisan setiap dia ulang tahun,lukisan-lukisan yang terpajang begitu indahnya.Lukisan-lukisan punggung seorang wanita yang sangat indah telah dilukiskan pria itu dan selalu dijadikan kado ulang tahun untuk wanita tercintanya.Apakah pria itu menemukan wanita lain dan meninggalkanya?Pria itu telah bersumpah bahwa akan sehidup semati dibawah pohon taman itu,dimana benda bukti sumpah itu dinyatakan dalam sepasang cincin pertunangan yang masih melingkar di jarinya sampai sekarang.Pria yang dia kenal bukanlah pria kemarin sore,tapi pria yang telah menjadi teman mainnya sejak kecil.Sejak masih bermain petak umpat,layangan sampai pria yang selalu menjadi tempat dia curhat segala permasalahan sebelum dia benar-benar jatuh hati ke pria itu,sebelum dia menjadi gila,sebelum dia menjadi begitu dingin,menjadi begitu sinis bila memandang orang.
Dia,dulu dikenal sebagai seorang wanita yang selalu tersenyum manis bila memandang orang,yang selalu menabur kasih kepada anak-anak jalanan sampai dia berani meminta sebagian kekayaan dari ayahnya untuk mendirikan satu yayasan untuk anak-anak jalanan.Tapi,kini kemana sudah senyumannya,kemana sudah kasihnya,bahkan yayasan itu sudah lama dia tidak mengurusnya,dananya juga sudah hampir kering.Anak-anak jalanan yang sudah dia bina akan menangis,berteriak karena kelaparan,karena kehilangan belaian kasih dan akan bergelandangan kembali ke jalan-jalan.Setiap hari dia hanya duduk di taman itu,biar musim berganti dari panas menjadi dingin,biar salju kadang turun menutupi jalan-jalan,biar cuaca dingin akan membekukan seluruh tubuhnya,tidak akan membuat dia meninggalkan taman itu.Banyak ahli jiwa telah didatangkan oleh ayahnya untuk mengobatinya,tapi semua diakhiri dengan sebuah penyerahan.Setiap pertanyaan yang diajukan oleh psikiater dapat dia jawab dengan benar.
Dia berteriak”saya tidak gila,kalian menganggap saya gila,namun saya tidak gila.”.
Namun,kenapa dia begini,hidup dalam sebuah kehidupan yang tak terjangkau,hidup dalam dunia dia sendiri,dunia yang sangat sepi,dunia yang tidak ada unsur kehidupan,selain hanya seberkas luka dalam dirinya.Sampai-sampai keluarganya akan mengirimnya ke rumah sakit jiwa untuk sebuah isolasi diri dan juga sebuah bentuk dari pengobatan.Namun,dimalam saat esok harinya dia akan dibawa,dia melarikan diri.Hanya berpakaian sebuah piyama dia melarikan diri keluar.Salju di langit turun pelahan-lahan,suatu keadaan cuaca yang membuat kebanyakan orang akan mati kedinginan,tapi tidak dengan dirinya.Selama ini dia begitu bersahabat dengan salju,bersahabat dengan hembusan angin dingin,bersahabat dengan panasnya sinar matahari.Berbulan-bulan,keluarganya kehilangan berita tentang dia.Semua teman-temannya telah dihubungi untuk mencari keberadaannya,semua kabar telah dimuat info berita tentang orang hilang,semua stasiun radio telah diudarakan.Wartawan-wartawan infotaiment ramai-ramai memuat beritanya.Bagaimanapun,dia putri seorang pemilik perusahaan yang rutin masuk majalah Forbes .
Berbulan-bulan telah berlalu,dari musim dingin dimana musim saat dia melarikan diri,dimana dia hilang tanpa jejak.Kembali musim dingin datang menurunkan salju-salju,tanda setahun telah berlalu.Keluarga sudah mulai melupakan tentang dia,walaupun secara pelahan-lahan,media-media tidak lagi memuat beritanya,seakan-akan dia telah lenyap dari bumi ini.Yayasan yang dia dirikan telah diambil alih oleh sebuah perusahaan yang bersedia meneruskan operasionalnya.Salju-salju dibulan desember turun tanpa henti,jadwal penerbangan banyak yang tertunda.jalanan tampak lenggang,banyak orang lebih memilih bersembunyi dalam rumah atau pun di kantor-kantor.Di sudut taman itu,taman yang selalu menjadi tempat persinggahan dia,tidak banyak yang berubah,hanya kini pohonnya telah membesar,ranting-rantingnya menyebar lebih luas,di halaman yang luas di depan taman itu diubah menjadi sebuah lintasan atletik dan dipagari oleh kawat-kawat pembatas.Kembali seorang wanita duduk di taman itu,dengan rambutnya yang lurus terbelai dan ditutupi sebuah mantel tebal duduk diam di bangku itu.Wanita yang hanya terlihat dari belakang menampilkan punggungnya yang indah duduk dengan diam.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah panggilan dan aku menoleh ke belakang,ternyata teman seprofesiku.Dia datang membawa kabar bahwa salah satu lukisanku terjual dengan harga yang fantastis disebuah balai perlelangan.Dia memandang sebuah lukisan yang baru selesai aku lukis dan kembali menoleh kepadaku.
“lukisan baru ya”,tanyanya sambil terus memperhatikan lukisanku itu
“iya,baru selesai aku kerjakan,hati-hati belum kering soalnya”.aku menimpalinya
“kamu akan beli nama apa untuk lukisanmu ini,bro?”.tanya teman aku yang masih terdiam bisu menatap
Sambil berjalan pergi aku membalas”Cerita seorang pelukis….”.